Friday, 2 January 2015


Kurasakan detik demi detik waktu bersenang-senang kian menipis. Sebulan yang lalu aku diyudisium dan sejak saat itu resmilah aku bukan mahasiswa lagi. Aku pulang ke kampung membawa gelar sarjanaku dan setelah memperlihatkannya pada kedua orangtuaku, yang Alhamdulillah masih hidup ketika aku berhasil menjadi sarjana, aku mulai menghabiskan waktu dengan makan, tidur, makan, tidur, dan merokok.

Tapi beberapa hari ini aku merasa waktu untuk itu akan segera habis. Api dari rokok yang kuhisap akan segera mencapai filternya. Dan pelan-pelan dalam hatiku tumbuh semacam rencana yang tak dapat kuungkapkan dengan jelas dalam bentuk kata-kata. Mengapa? Aku tak tahu. Yang kutahu, meski dengan samar, waktuku bersenang-senang akan segera berakhir.

Lalu tiga hari kemudian, api rokok itu betul-betul mencapai filternya. Aku bangun di pagi hari dan heran pada diri sendiri karena bisa bangun sepagi itu. Pukul 6 tepat. Untuk menyegarkan diri, aku duduk di tangga rumah. Langit di atas sana tampak begitu bening. Daun-daun mangga depan rumah terlihat sangat hijau seolah baru tumbuh kemarin. Aku mendapat perasaan bahwa duniaku baru akan dimulai saat itu. Aku tak lagi memikirkan apa yang telah terjadi kemarin dan di masa-masa sebelum itu. Tepatnya, aku betul-betul-sangat-tidak-tertarik memikirkannya. Di kepalaku, seolah-olah ada sebuah godam yang memukul terus-menerus, dan gemanya berulang-ulang seperti ini.

Apa selanjutnya? Apa selanjutnya?

“Nak,” ibu memukul lembut pundakku. Aku terkejut dan menoleh ke belakang.

Mulutku membuka seolah berkata ‘ada apa’.

“Nak,” kata ibu, “daripada berdiam diri seperti itu, apalagi masih pagi, mungkin ada baiknya kalau kau mengelap tangga.”

Oooo, batinku. Aku mengangguk. Setelah itu ibu menuruni tangga dan aku memperhatikan punggungnya. Ia mengenakan sarung sampai di bagian dada. Terlihat tali kutangnya yang putih simetris di bagian punggungnya, seperti tali ayunan.

Baik, kita mulai dengan mengelap tangga, cetusku dalam hati. Aku bangkit, menuruni tangga, lalu mengambil kain lap yang tersampir di bunga-bunga. Agak lembab. Aku menyiramnya di dekat sumur, memerasnya, lalu kembali ke arah tangga dan mulai menggosok-gosokkan kain itu mulai dari anak tangga paling atas. Setelah semuanya selesai, termasuk mengeringkan kembali kain itu di taman kecil dekat tangga, aku berjalan-jalan ke samping rumah.

Di sana-sini terdapat genangan sisa hujan deras malam tadi. Rumput-rumput bercuatan seperti model rambut baru. Agak jauh di sudut pagar, melintang kesana-kemari ranting-ranting kayu, teronggok tak karuan, seperti belalang-belalang besar sedang bergelut. Comberan tempat limbahan air dari dapur di atas rumah, meluap hingga sulit dibedakan dengan genangan hujan biasa andaikata larutan hitamnya tidak kentara. Mengambang bau busuk dari sekitar tempat itu. Aku baru sadar betapa kotornya rumahku. Di kolong rumah, berjuntaian jaring laba-laba seperti kelambu rusak.

“Ya, mungkin bagus kalau kau cabut rumput-rumput itu, Nak. Lihat, kotor sekali!” ibu sekali lagi mengagetkanku. Badannya masih basah. Ia baru saja mandi.

Hmm, sebenarnya beberapa detik yang lalu juga timbul dalam hatiku untuk mencabuti rumput-rumput itu. Tapi setelah mendengar ibu, hatiku seperti merah padam lalu redup. Dari dulu aku tak suka ditunjuk-tunjuk, diatur-atur, dipaksa-paksa, dan aku tak akan melakukan apapun itu jika demikian caranya. Akan kulakukan jika memang itu mauku, prinsipku. Amatlah sulit bagiku membayangkan diri menjadi perpanjangan tangan dari keinginan orang lain. Bahkan itu termasuk orangtuaku? Ya, kukira begitu.

Tapi, waktu seakan mengambang perlahan.

Ada sedikit jeda bagiku untuk memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi.

Begini. Usiaku sudah 24 tahun. Aku telah memegang prinsip itu bertahun-tahun lamanya hingga sekarang. Tidakkah aku bosan? Tentu saja. Aku bosan. Namun, hidup dengan memegang teguh pendirian adalah sesuatu yang menantang dalam hidup seorang anak muda. Ada heroisme di sana. Setidaknya bagi diriku pribadi.

Tapi, lihatlah sekelilingmu. Rumput-rumput tinggi, kesemrawutan dari onggokan ranting-ranting kayu, dan bau makhluk-makhluk tak terlihat dari comberan, dan seterusnya, dan seterusnya. Tidakkah kau juga bosan dengan ini?

Tentu saja, kataku lagi dalam hati. Sekarang, mungkin ini yang lebih penting.

Bagaimana dengan perjuangan untuk lepas dari kungkungan orangtua? Pemberontakan terhadap telunjuk orangtua yang penuh tuntutan? Hmm, seiring waktu tema itu menjadi tidak menarik lagi. Kurasa demikian. Apalagi, tadi, tanpa kusadari, aku telah melakukan apa yang dikatakan ibu. Sebuah pekerjaan sederhana bernama ‘mengelap tangga’. Yah, mungkin ini juga adalah sebuah tanda.

Aku tersenyum. Senyum yang sangat manis jika ditempatkan di tengah kesemrawutan halaman samping rumahku. Senyum yang penuh vitalitas. Senyum yang kubawa-bawa hingga aku mulai mencabuti rumput-rumput itu.

Begitulah.

Setelah berlangsung setengah jalan, aku kelelahan. Sudahlah, tidak perlu memaksakan diri, kata batinku. Memaksakan diri adalah pekerjaan orang tua. Aku masih muda. Aku setuju. Setelah berjongkok beberapa lama dengan tangan menggantung di atas lutut, aku bangkit. Aku bermaksud untuk mencukupkan pekerjaan hari itu dan naik ke atas rumah untuk beristirahat.

Sekonyong-konyong pandanganku teralihkan ke arah comberan di bawah dapur. Air hitam itu meluap. Lalat-lalat bergentayangan di atasnya. Batu-batu yang ditumpuk di situ kini tidak tampak. Tenggelam oleh tanah berlumpur. Hatiku trenyuh. Mungkin ini bisa kukerjakan esok hari. Tapi sungguh, semakin lama melihatnya, semakin aku tidak tahan dibuatnya.

Semangat baru seperti jika menjajal sebuah hal baru, muncul menggantikan kepenatanku. Aku menggeledah kandang ayam mencari cangkul. Beberapa lama kemudian, karena kelelahan pikiranku mulai melayap kemana-mana lalu bertengger di atas pohon mangga. Dari atas sana, aku melihat diriku sendiri sedang mencangkul di bawah. Saluran air yang dulu, yang menghubungkan comberan dengan tempat pembuangan terakhir, kini tertutup timbunan tanah, akibatnya comberan mampet, dan airnya meluap. Pekerjaanku sederhana saja, menggali kembali saluran air itu hingga air comberan dapat mengalir dengan leluasa ke arah tempat pembuangan terakhir. Namun, untuk orang yang selama enam tahun lamanya hanya bergelut dengan buku saja, pekerjaan itu sungguh sangat melelahkan.

Setelah selesai, kurasakan pikiranku kembali menyatu dengan tubuhku. Keringat mengucur deras seirama aliran air dari arah comberan. Meski kelelahan, aku sangat puas. Yap, aku puas. Dan sangat lega. Seolah-olah dua batang pohon telah tumbuh di bahuku dan kini tercabut dengan akar-akarnya. Berikut tumbang pula semua pertanyaan tentang apa yang akan kulakukan setelah tinggal kembali di kampung.

Lihat! Di anak tangga terbawah aku duduk sembari mengedarkan pandang ke sekeliling rumah. Tanah ini cukup luas, tapi sangat kotor. Aku lahir di sini, tapi semua tampak asing bagiku. Setelah itu timbul pikiranku, buat apa jauh-jauh mendaki gunung, kalau lingkungan sendiri tidak diakrabi.

Aku tersenyum.

Begitulah, begitulah. Begitulah semuanya bermula.

Jika kau menganggap ini hanya bualan saja. Kukatakan dengan tegas, ya, ini betul-betul terjadi padaku di hari itu.

.

Bojo, September 2010
by : Muliadi Gf

Sekarang sore hari, menjelang magrib. Sedikit demi sedikit, gelap merambat masuk lewat jendela, memenuhi kamar. Kegelapan yang lebih pekat di belakang pintu seakan datang lebih dulu mewakili malam yang juga sebentar lagi sampai.

Apa yang ada di hadapanku sekarang adalah meja, yang diduduki asbak bumbung puntung rokok, sebentuk korek gas warna kuning, penggaris 30 sentimeter, bungkus rokok yang terbuka, dua buah pulpen, empat buah buku fiksi murahan, kamus tebal, pensil grafit, buku lukisan Toulouse-Lautrec*, dan, selembar baju. Dan di depan semua itu, seolah perwakilan dunia luar atas diriku, sebuah buku tulis yang terbuka dan sebentuk pulpen yang kupegang dengan tangan kanan.

Iring-iringan malam sebagian sudah sampai. Iring-iringan yang sunyi. Sebagian lagi masih di luar. Sebagian yang di dalam mulai duduk di atas buku tulisku. Kata-kata yang telah kutuliskan diam saja diserbu seperti itu. Mulai gelap. Aku menyalakan lampu. Seketika gelap menghambur, dan kembali kata-kataku terlihat jelas di atas kertas.

Aku membuka buku lukisan Toulouse-Lautrec. Garis-garis magis pelukis itu menyala disorot cahaya lampu. Di halaman 4, lukisan In the Belle Epoque. Kutinggalkan. Aku kembali ke rokokku.

Suara tapak-tapak kaki keponakanku berlari-lari di atas lantai kayu, seakan tak peduli azan Maghrib sedang berkumandang. Sebelum rokok di tanganku habis, aku belum akan bangkit dari depan meja. Namun ibu datang, membuka pintu kamar, sedetik kemudian menguar suara kandang ayam dari mulutnya.

“Maghrib, bangkitlah!”—intinya.

Kutatap lekat-lekat bara rokokku seakan berat berpisah. Kuhisap sekali lagi—ini yang terakhir—sebelum kutenggelamkan nyalanya di genangan abu rokok lautku, asbakku.

Sore berakhir. Maghrib berkuasa.

Selepas makan malam, aku kembali ke meja.

Tanpa kutahu, menit-menit jeda sebelum itu telah memberimu kesempatan untuk datang, tanpa mengetuk pintu, tanpa membuka pintu, tanpa lewat pintu, menembus segala pembatas, langsung menuju kamar. Sehembus hawa hangat yang akrab terasa di tengkukku saat terdengar suaramu, “Apa yang sedang kau tulis?” Aku berbalik. Kau telah ada di belakangku.

Kau maju ke muka. Kita sejajar di depan meja.

“Suasana. Aku menulis suasana,” jawabku kemudian.

“Mengapa tidak kau gambar?—seperti biasa?” tanyamu.

“Terlalu luas. Aku belum mampu memampatkannya hanya dalam selembar kertas. Seperti Toulouse-Lautrec,” daguku menunjuk buku itu.

Saat kau ada di sini, entah kenapa aku jadi semakin lambat menulis. Waktu seakan membelah diri menjadi waktu-waktu yang lebih kecil kemudian membelah lagi menjadi waktu-waktu yang jauh lebih kecil lagi, begitu seterusnya. Dan saat waktu itu membagi, kau selalu ada di sana. Kau menjadi kau yang lebih kecil sebelum membelah lagi menjadi kau yang jauh lebih kecil lagi, dan begitu seterusnya. Mungkin hanya dagumu, bibirmu, lancip hidungmu, matamu, telingamu, yang terlihat di dalamnya. Tapi bahkan dagumu, bibirmu, hidungmu, matamu, telingamu itu, sudah cukup mampu menahan pulpenku mengambang di atas meja tanpa menulis satu pun kata.

Ah! Aku mendesah.

Lalu kita berdua diam. Diam yang sangat lama. Diam yang menyadarkanku pada hujan yang telah reda sedari tadi. Entah kapan.

Kau tak tahu harus bicara apa. Kau lalu meraih buku tulisku dan membacanya dari awal. Membacanya dengan suara keras, terdengarlah derum mesin dalam kecepatan tinggi.

“Hei!” tegurku. “Bacalah lebih lambat. Kau hanya akan menemukan kata-kata bila seperti itu. Ini suasana, aku sedang menggambarkan suasana. Biarkan suasana itu membentuk ulang dirinya saat kau membaca.”

Kau berhenti mendengarku dan mulai membaca lagi. Kali ini lebih lambat. Nada suaramu juga lebih pelan. Seperti berbisik di ruangan gelap.

Lalu pelan-pelan malam beranjak pulang, bukan menuju pagi, tetapi menuju sore tadi.

Kau melompat dan mendarat lembut di atas buku. Masih dengan serius memperhatikan aku menulis, saat kaki-kaki kecil hujan mulai melompat-lompat di atap rumah. Hawa dingin masuk. Aku melihat kau bergerak meraih jaket di gantungan baju, menutup tubuhku.

Saat itulah, saat kau memakaikan jaketku, kau baru menyadari kehadiran seorang perempuan di belakangku. Kau tak mengenalinya.

“Siapa dia?”

“Itu kau,” kataku.

Kau memutariku, mendekati perempuan itu. Mengamatinya lekat-lekat, menyentuhnya sesekali dengan ujung jari, mengatakan kata-kata tanpa suara yang tak terdengar oleh siapapun. Kau berpikir. Bingung.

“Sejak kapan ia, atau itu aku, ada di sini?”

“Ia memang selalu ada di sana. Sudah sejak lama,” kataku lalu kembali ke buku tulisku, meneruskan catatanku.

“Apa yang dilakukannya?” tanyamu lagi.

“Lihat saja,” kataku, masih terus menulis.

Lalu perempuan itu maju dan mulai menunjuk benda satu-satu. Kau terus memperhatikannya, silih berganti antara benda yang ditunjuknya dan wajahnya, yang tak lain wajahmu sendiri. Lalu perempuan itu berdiri ragu. Di belakangku, jemarinya bergerak naik ke kepalaku. Kau masih diam memperhatikan saat perempuan itu membuka kepalaku seolah sedang membuka buku yang sangat besar. Ia lalu mengeluarkan pantai dan kulit kerang. Aku menggeleng melihat pantai itu, dan ia mengembalikannya. Kini di tangannya hanya kulit kerang. Ia meletakkannya di atas meja, menyatu dengan asbakku.

Lalu ia menyalakan lampu. Dan menyulutkan rokokku. Kau mulai membayangkan beberapa jam kemudian kau akan melakukan hal yang sama, dengan gerakan yang sama sekali sama, dengan kelembutan yang sama.

Tak peduli pada keherananmu, perempuan itu menunjuk buku Toulouse-Lautrec. Halaman 4, In The Belle Epoque. Perempuan itu membuka sebuah lukisan Toulouse-Lautrec, yang tengah menggambarkan suasana dansa-dansi di Moulin Rouge. Perempuan itu melompat masuk, kau mengikutinya. Saat perempuan itu menari, kau memandangnya sekali lalu bergerak lebih bebas, lebih liar, lebih panas, darinya. Perempuan itu menambah cepat gerakannya, kau berusaha melewatinya dengan gerakan yang cepat pula. Gerakan kakimu menghentak-hentak lantai dansa, di mataku tak seperti kegembiraan, tetapi lebih mirip kemarahan. Saat itulah aku mulai merasa ada yang salah.

Kau keluar dari lukisan, meninggalkan perempuan itu, dengan terengah-engah. Sekujur tubuhmu penuh keringat. Bulir-bulir keringat menciprat ke wajahku saat kau berkata dengan keras.

“Katakan sejujurnya, siapa dia?!”

“Bukan siapa-siapa, dia itu kau,” jawabku tetap tenang.

“Bohong! Katakan saja!”

“Coba lihatlah dia!” aku menunjuk. Wajahnya, matanya, tangan dan kakinya, semua milikmu. Menyerupaimu.

“Lalu mengapa ia bisa ada di sini?” katamu sedikit lebih tenang, meski dengan mata yang mengancam. “Mengapa ia bisa ada di belakangmu, terus-menerus di sana, dan berlaku seolah kalian telah bersama sekian lama?!”

Aku tak mampu menjawabnya.

Aku tak tahu, benakku. Aku mulai mengingat tanggal-tanggal, sekian pertemuan, dan tempat-tempat. Sebelum aku merumuskannya dalam ingatan yang lebih padat, kau mengajukan pertanyaan baru.

“Sejak kapan ia ada di sana?”

“Mungkin… Sejak kita terakhir kali bertemu.”

“Maksudmu?”

Aku mulai merasa semuanya sedikit lebih jelas kini, maka kataku, “Mungkin ia semacam perlambang saja, bahwa aku selalu mengingatmu, aku selalu merindukanmu, sejak terakhir kali kita bertemu.”

Kau diam tak mengerti. Bingung.

“Mungkin ia adalah ingatanku sendiri tentangmu,” kataku lagi. “Aku terlalu sering mengingatmu, sampai tak punya hal lain untuk dilakukan,”—sedikit membela diri—“Aku berhenti menulis, berhenti menggambar, dan hanya memikirkanmu. Waktuku tersita oleh ingatan tentangmu,”—mulai bernada rayu—“Sedang apa kau di sana, bersama siapa, ingatkah kau padaku, pertanyaan-pertanyaan seperti itu.”

Kau masih diam. Mungkin tak lagi bingung.

“Lalu suatu hari, karena begitu kuatnya ingatanku tentangmu, ia hidup, berdiri, keluar dari ingatanku. Dan menjadi kau yang sama, tapi berada di sini. Jika kuingat lagi sekarang, mulai saat itu semuanya berjalan normal kembali. Aku kembali menulis, aku kembali menggambar, aku kembali bekerja. Bahkan seperti yang kau lihat tadi, ia mulai terbiasa untuk membantuku. Kau mengerti?”

Kukira kau mengerti. Aku mulai membayangkan sebentar lagi kita berpelukan dan kau memberiku ciuman tanda penyesalan … Tapi tidak.

“Oh … jadi maksudmu, ia yang selama ini menahanmu untuk berhenti menemuiku lagi? Kau lebih memilih tinggal berlama-lama dengannya daripada menemuiku?”

Aku yang mulai bingung. Tak seperti ini tanggapan yang kuharapkan. Kau mulai terlihat hendak meninggalkan kamar, matamu mengincar pintu. Lalu secepat itu aku meraih lenganmu.

“Bukan begitu. Coba lihatlah sekali lagi! Dia mewakili kerinduanku padamu. Tidakkah itu membuatmu tenang dan berpikir lebih jernih?”

“Tidak!” katamu cepat.

Saat itu perempuan itu keluar dari lukisan. Dengan sekujur tubuh berkeringat, ia menatap kita berdua dengan tatapan tak mengerti.

“Tinggal saja dengan kerinduanmu itu!” katamu sambil menunjuk perempuan itu. Aku masih mencoba menahanmu, tetapi secepat itu kau berlalu keluar, melewati segala pembatas, tanpa lewat pintu, tanpa membuka pintu, tanpa membanting pintu, menghilang dalam kegelapan hujan di luar, yang turun kembali entah sejak kapan.

Sepotong sore itu telah lenyap, aku kini kembali ke dalam malam. Tadi kau datang sebentar, dan baru saja pergi.

Seakan larut dalam perasaanku, perempuan di belakangku itu diam. Aku berbalik memandang wajahnya.

“Beginikah rindu yang kau ingin aku menuliskannya?”

“Ya, begitulah,” kata perempuan itu.

Malam ini, aku telah meminta padanya sebuah cerita tentang rindumu.

“Aku tak bisa menceritakan rindunya. Aku hanya bisa menceritakan rindumu,” katanya.

Ia pun mulai bercerita, dan aku menuliskannya. Ia memulai ceritanya dengan menggambarkan suasana sore menjelang Maghrib sebelum hujan turun. Sampai tulisan ini kurampungkan, ia belum berhenti bercerita di belakangku. Dan aku terus menulis, terus menulis, terus menuliskan kata-kata yang ia bisikkan.

“Beginikah rindu itu?” tanyaku kemudian, tak percaya.

“Ya, menurut ceritaku rindumu seperti ini,” katanya.

.

Dari tepi Gunung Tolong, 22 Oktober 2011
BY Muliadi Gf

Catatan:

[*] Henri de Toulouse-Lautrec (1864-1901), adalah seorang pelukis Perancis yang terkenal dengan karya-karyanya yang menggambarkan kehidupan malam kota Paris waktu itu.



*cerpen ini pertama dimuat di

Jurnal Nasional, 15 April 2012

Thursday, 1 January 2015

Aku lebih suka menulis pada malam hari. Itu kulakukan karena saat malam, orang-orang tidur; saat mereka tidur, mimpi-mimpi mereka melayang ke udara malam. Melayang-layang di sana. Ada yang menuju kenyataan. Ada pula yang terjatuh di tengah jalan, di kenyataan entah apa. Ada pula yang terus melayang tanpa tahu berakhir di mana. Dengan menutup mata, aku bisa melihat mimpi-mimpi mereka sejelas saat aku membuka mata. Aku tinggal menuliskannya.



Dan orang yang akan kuceritakan berikut ini adalah seorang lelaki yang bermimpi untuk menjadi seorang pengusaha kaya. Jangan ribut, jangan katakan pada siapapun, ia tinggal di kamar sebelah kamarku. Di rumah pondokan ini, kami tinggal berlima. Namun untuk malam ini, aku hanya akan bercerita tentang mimpi temanku itu, tentang mimpinya menjadi seorang pengusaha kaya.



Ia anak kampung, sama sepertiku. Keturunan nelayan, juga sama sepertiku. Dan ia merokok, tentu tak sama sepertiku. Pada malam ini, aku melihat mimpinya dipenuhi asap rokok. O, bukan, bukan lagi rokok‘ kali ini ia mengisap cerutu. Cerutu asli Kuba, merk Romeo y Julieta. Sambil mengisap cerutu, ia duduk berselonjor dengan kedua kaki di atas meja. Entah meja kerjanya, atau meja di rumahnya, yang satu itu aku tak melihatnya jelas.



Ia duduk sambil mengisap cerutu, kita mulai dari itu.



“Darto!" teriaknya kemudian.



Seorang lelaki, tua, berjas hitam, bersepatu pantopel mengkilat, datang tergopoh-gopoh. Sedikit menunduk ia berujar,



“Ada apa, Tuan?"



“Bikinkan aku kopi! Kopi Toraja yang kemarin, yang kemarin kubawa dari Sulawesi."



“Baik, Tuan," kata pelayan tua itu, sebelum beranjak keluar pintu meninggalkan tuannya.



“Dasar busuk! Kalau saja tak ada dia, aku sudah menang tender itu,‘ temanku mulai menggumam. “Ya, kalau saja tak ada dia, aku sudah memenangkannya. Berapa miliar melayang dari depan wajahku? Sial! Kalau saja tak ada dia!" ia mulai terlihat seperti hendak menendang asbak berukir di atas meja.



Sang pelayan datang. Di tangannya, secangkir kopi dengan penutup aluminium berkilat-kilat oleh cahaya lampu. Bayangan asap cerutu menari-nari di penutup cangkir itu.



“Kalau saja tak ada dia, Darto, kita sudah bertambah kaya! Kalau saja tak ada dia!"



“Dia siapa, Tuan?" Darto menunduk-nunduk.



“Dia‘ Ah, pokoknya dia! Kau tak perlu tahu!" tangan temanku yang mengempit cerutu setengah menunjuk si Darto.



“Panaskan mesin! Kita segera berangkat," temanku bangkit dari kursinya.



“Tapi, Tuan‘ Kopinya?" tegur Darto dengan halus.



“Ada apa dengan kopinya, hah?! Aku yang membeli kopinya, bukan kau! Pergi sana cepat, nyalakan mesin!" temanku berang, matanya membelalak. Di dinding, seolah menjadi cermin baginya, kepala seekor harimau yang diawetkan juga membelalak padanya.



Darto bergegas keluar, mendahului tuannya. Sebelum mesin mobil panas, temanku naik ke belakang, meminta mobil segera berangkat.



“Tapi, Tuan,‘‘ Darto ingin berkata, "Tapi, Tuan, mesinnya belum panas," tetapi tampaknya ia sudah bisa menebak jawaban apa yang akan keluar dari mulut tuannya. Ia pun segera memasukkan persneling dan menginjak gas. Mobil melaju keluar dari halaman rumah besar itu.



“Ke mana, Tuan?"



“Ke mana saja!"



“Eh‘?"



“Pokoknya jalan saja! Nanti kuberitahu!‘ kata temanku ketus. Asap cerutu masih mengepul-ngepul di depannya, membelai-belai rambut Darto, mengelus-elus tengkuknya, bahkan sesekali menutupi pandangannya. Sementara di kaca spion-dalam, tampak tuannya duduk bersandar di jok kursi belakang dengan santai, menggoyang-goyangkan kedua belah paha mengiringi senandung ringan dari mulutnya.



Mobil melintasi dua blok, berbelok ke kiri, lalu menyeberangi tiga simpang empat.



“Ya, berhenti di situ! Rumah berpagar hijau itu!" tunjuk temanku.



“Rumah siapa itu, Tuan?" tanya Darto.



“Rumah embahmu, gundul! Tak perlu banyak tanya! Diberitahu pun kau belum tentu tahu!" sergah temanku.



Mobil menepi, temanku keluar dari mobil. Ia menuju pagar dan segera memencet bel. Priiiiiiiiinng!!! Terdengar keriut pintu dari dalam. Seorang perempuan muda menghampiri pagar. Pintu terbuka dan senyum perempuan itu ikut terbuka.



“Hai, cantik!" kata temanku.



“Hai, Om. Lama tak jumpa, dari mana saja selama ini?" tanya perempuan itu genit.



“Dari hatimu," jawab temanku dengan suara berlagu. Aaaah.



Perempuan itu meleleh. Bukan kiasan, ia memang tampak meleleh dalam mimpi temanku, tetapi secepat itu kembali ke wujudnya semula. Kemudian ia merangkul erat bahu temanku dan membawanya ke dalam. Darto diam memperhatikan. Ia tak berani menggeleng-geleng meski batinnya sudah sedari tadi menggeleng-geleng.



Sebentar kemudian, temanku muncul lagi di depan pintu, berjalan ke arah mobil dan menunduk ke dalam. “Jangan beritahu Ibu, ya! Awas!" ancamnya kepada Darto. Darto -- apa lagi yang bisa ia lakukan? -- mengangguk.



Tepi jalan itu sepi. Hanya tinggal mobil berisi Darto yang duduk di dalam tanpa tahu mesti melakukan apa. Tape mobil rusak sejak sebulan lalu, sampai sekarang belum diperbaiki, meski ia tahu tuannya bahkan mampu memasang satu orkes Melayu di dalam mobil. Karena tiada tawaran lain dari waktu, Darto mencoba tidur. Ia menurunkan sedikit kursinya ke belakang dan mulai berbaring. Pelan-pelan, kantuk menindih matanya. Darto tidur. Ia bermimpi.



Mimpi Darto berjalan-jalan di udara siang, kelayapan kemana-mana. Dan entah bagaimana prosesnya, mimpinya mundur ke belakang, ke masa sekarang -- tepat di waktu malam -- dan kini tampak jelas di luar sana. Mimpinya secara kebetulan berpapasan dengan mimpi temanku, calon tuannya di suatu masa yang entah apakah jadi datang atau tidak.



Dari mimpinya, baru kutahu ternyata Darto telah lama ingin memiliki sepetak tanah, berisi sebuah bangunan, dan bangunan itu kelak dijadikannya rumah pondokan mahasiswa. Darto ingin menjadi bapak kos. Mimpi yang sederhana saja.



“Setelah terima gaji dari tuan itu‘ aku akan membeli tanah, membangun rumah, dan menyewakannya...," igau Darto dalam tidurnya.



“Aku akan...," igaunya lagi. Dalam mimpi itu, ia sebagai bapak kos tengah berjalan ke satu kamar untuk menagih uang bulanan pada seorang penghuninya. Ia berhenti, lalu dengan wibawa tak langsung dari seorang bapak kos, langsung membuka pintu. Kamar menganga, tampaklah temanku sedang tertidur dengan posisi paha mengangkang. Liur menetes di pipinya. “Oh sayang, sayangku‘,‘ igau temanku dalam tidurnya.



Dengan langkah gontai, Darto masuk dan seketika menepuk keras paha temanku. Temanku bangun gelagapan. “Ada apa? Kenapa berhenti? Mana kau, sayang?" ia masih setengah dalam mimpi. Beberapa saat kemudian, ia mendongak. Dipandangnya lelaki tua yang berdiri di hadapannya.



“Lho, andakan Darto?" tunjuk temanku, teringat seseorang.



“Apa? Darto? Aku bapak kosmu, tahu?! Kau sudah menunggak tiga bulan! Jika tidak bisa kau lunasi sekarang, segera angkat kaki dari kamar ini!" kata Darto yang sekarang menjadi bapak kos dalam mimpinya sendiri.



“Tidak bisa begitu dong, Pak," temanku terlihat kesal. “Anda datang langsung membangunkan saya dengan kasar. Ini tidak berperikemanusiaan! Menagih seseorang juga bisa dengan bahasa yang santun. Anda jangan semena-mena seperti itu, dong! Masuk kamar orang dengan paksa, membangunkannya dengan paksa pula." Temanku mulai berdiri, sebentar lagi kukira mereka akan berkelahi.



“Jadi kau mau apa, hah?! Kau mau apa?!" Darto sebagai bapak kos mulai maju, mendorong-dorong temanku mundur hingga ke dinding.



Temanku menciut. Ia menunduk sambil menggoyang-goyangkan kepalanya tak jelas seperti babi. “Yaaa...," keluar dari mulutnya. “Bukan apa-apa, sih," suaranya mulai pelan. “Tapi...," suaranya menggantung.



“Tapi apa, hah?! Tapi apa? Sudah menunggak tiga bulan masih saja mau mengelak, malah mau melawan. Mau melawan, kau, hah?!" Darto sebagai bapak kos mulai menarik leher temanku dan mengangkatnya ke atas, semakin rapat dengan dinding.



Temanku tercekat. “Tidak, Pak, tidak," ia berusaha menahan lengan Darto yang kokoh itu. “Tapi maksud saya, kita masih bisa membicarakannya baik-baik, bukan?"



Darto menurunkan temanku. Ia sedia berbaik-baik pada temanku. Secepat kakinya kembali menginjak lantai, secepat itu pula temanku melecut ke lemari, membukanya, dan mengeluarkan amplop kiriman ibunya dua hari yang lalu. Isinya sudah habis setengah, untuk rokok dan mentraktir si Lela‘‘pacarnya.



“Cuma segini, Pak,‘ ia menyodorkannya pada Darto. “Mudah-mudahan pertengahan bulan kiriman ibu datang lagi, saya akan bayar penuh saat itu juga."



Darto mengambil paksa amplop dari tangan temanku. Ia mulai pasrah. Mau apa lagi, cuma segini yang bisa kudapatkan dari mahasiswa korengan ini, mungkin itu pikirnya.



“Awas kalau bohong!" mata Darto mendelik, kemudian ia berbalik, hendak meninggalkan kamar.



“Terima kasih, Pak," kata temanku. “Saya akan selalu mengingat kebaikan hati Bapak. Kelak saya kaya, saya tak akan pernah melupakannya." Temanku tersenyum manis‘‘sangat manis malah.



Darto pun keluar. Temanku menepuk dada -- selamat, selamat, lirihnya.



“Woi! Bangun! Tidur saja kerjanya!"



Darto megap-megap sejenak seperti ikan. Pelan-pelan ia mulai mengenali tuannya. Namun belum sepenuhnya keluar dari mimpinya tadi. “Lho, apa lagi? Bukankah kau sudah bayar setengah tadi?‘ ia mengigau dengan suara tak jelas, namun tuannya mendengarnya.



“Apanya yang setengah? Tadi aku sudah bayar perempuan itu satu bulan penuh! Ayo, bangun! Kita pulang," kata tuannya, yang tak lain temanku dalam mimpinya.



“Langsung pulang, Tuan? Tidak ke kantor dulu? Masih pagi," kata Darto berbasa-basi sebelum menyalakan mesin. Kali ini ia sudah sepenuhnya sadar, namun tak akan pernah sadar sedang berada di dalam mimpi temanku.



“Untuk apa kau mengatur-aturku, hah?!" temanku mendorong kepala Darto dari belakang. “Banyak tanya kau ini. Bila masih seperti itu, bulan depan kau kuganti!"



“Wah, jangan, Tuan, jangan," kata Darto memelas di depan kaca spion-dalam yang memantulkan bayangan tuannya.



Aku terkekeh melihat mimpi temanku. Sampai pagi menjelang, aku masih asyik menikmati kejadian-kejadian konyol dalam mimpi itu‘‘kehidupan Darto di bawah kata-kata kasar tuannya. Selama malam itu, untuk pertama kalinya aku tidak menuliskannya. Betul-betul hanya menikmati sajian mimpi itu hingga aku tertidur.



Pagi hari, aku bangun seperti biasa, bersiap untuk berangkat kuliah. Baru saja membuka pintu, kulihat di depan pintu kamar temanku sudah berdiri bapak kos kami yang tua, galak, dan suka berlaku kasar. Namanya Pak Darto. Sedari tadi aku tak mendengar sedikit pun suara dari kamar sebelah. Mungkin temanku masih tidur, mungkin ia masih bermimpi.

.

Bojo, Oktober 2011

by: Muliadi Gf, lahir dan tinggal di Barru, Sulawesi Selatan

catatan : Cerpen ini pertama dimuat di Jurnal Nasional, 15 April 2012.

suatu hari seorang kakek ingin buang air kecil, lalu ia pergi menuju sebuah WC. ketika ia keluar setelah selesai berhajat, ia ditegur oleh seorang pemuda yang menjaga WC tersebut "wahai orang tua, anda harus membayar ongkos masuk ke WC tadi".

mendengar perkataan itu, air mata bercucuran keluar dari mata si kakek, ia menagis tersedu-sedu. pemuda itu terkejut dan berkata "wahai kakek, jika engkau tidak memiliki uang maka tidak usah bayar, untukmu gratis kali ini dan berhentilah menangis karena ini"

kakek itu menjawab, "wahai pemuda, aku menagis bukan karena aku tidak punya uang, tetapi aku berfikir untuk masuk ketempat kotor seperti ini harus bayar, bagaimana dengan surga Allah ?

berapakah bayaran yang harus aku sediakan untuk masuk kedalamnya ?


sahabat,,mohon di maafkan atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan,,,
semoga buku amal kita tahun ini penuh dengan catatan amal ibadah dan kebaikan kita,,,amin,,,!!

Selepas shalat magrib aku keluar asrama hendak mencari makanan untuk sahur nanti,,
 Aku berjalan di atas trotoar jalan sambil melihat lihat warung nasi di seberang jalan,,

Tiba-tiba seorang bapak yg umurnya sekitar 60-an lewat di sampingku, ia menarik sebuah gerobak yg ukuranya kira2 sebesar pintu rumah biasa,,

Pakaiannya sangat lusuh, ia hanya menatap lurus kedepan, tiba2 dari dalam gerobak yg tertutup setengah itu muncul satu orang anak kecil, kemudian muncul satu lagi dan yg terakhir muncul yg ukuran badanya paling kecil di antara mereka bertika, mereka berbincang2 lalu tertawa dan berbincang2 lagi, sepertinya mereka senang sekali,,

Bapak tua itu terus menarik gerobaknya kearah simpang 4 di depan,,
Aku tidak tau dan tidak mau menebak dimana bapak itu akan berhenti menarik gerobaknya dan mengistirahatkan anak2 kecil tadi dan dirinya sendiri, mungkin di emperan toko atau mungkin dibawah jembatan,,
Tapi aku harap mereka berhenti di sebuah tempat yg nyaman, hangat dan terang yg kami sebut sebagai "rumah",,

Lihatlah kebawah maka kamu akan bersyukur dgn keaadan sekarang, lihatlah ke atas maka kamu tidak akan merasa ria dan sombong,,

Sunday, 28 December 2014

Cara Membuat Blog menarik di Blogspot Dengan Mudah

 Semakin banyak orang yang melihat potensi dari blog dan berharap menjadi blogger yang terkenal. Tentunya sebagai langkah awal di dunia blogging anda harus mengetahui cara membuat blog. Ada banyak platform blog yang bisa anda coba, tetapi saat ini yang paling praktis masih blogspot.

Untuk mengetahui cara membuat blog di blogspot anda haruslah mempunyai sebuah akun Google terlebih dahulu. Anda bisa memiliki akun ini dengan membuat sebuah akun email baru di Google yang biasa kita sebut sebagai GMAIL. 

Jika saat ini anda belum mempunyai akun ini silahkan baca artikel di bawah ini untuk panduan membuatnya :

1. Memasukkan data pribadi anda.

  • Silahkan saudara membuka alamat gmail di http://mail.google.com/ 
  • Biasanya anda akan masuk ke layar login akun Google terlebih dahulu. pada layar tersebut di bagian kanan atas akan ada link Create an Account atau Buat Akun
  • Sebagaimana layaknya sebuah pendaftaran, Google akan meminta anda mengisi beberapa hal sebelum anda membuat email. Berikut ini adalah data yang harus anda masukkan:
  • Nama depan dan belakang anda
  • Alamat email yang anda inginkan (akan ada pengecekan ketersediaan, karena tidak boleh ada dua alamat email yang sama)
  • Isikan password email yang anda inginkan. Password sebaiknya perpaduan huruf besar dan kecil dengan angka numerik. Contoh: PerHi4s4nDuni4. Saran saya ketik dulu password ini di sebuah notepad dan simpan.
  • Ketik ulang password anda untuk memastikan tidak ada karakter yang salah.
  • Masukkan tahun, bulan, dan tanggal kelahiran anda
  • Pilih jenis kelamin
  • Isikan nomor handphone anda pada pendaftaran ini. Handphone ini akan anda gunakan dalam pengamanan akun anda nantinya.
  • Jika anda punya akun emaill lainnya, isikan ke dalam formulir. Ini akan membantu anda jika akun email Google yang anda buat ini mengalami masalah nantinya.
  • Ketikkan lokasi atau negara anda
  • Tentu saja yang wajib hukumnya adalah menyetujui persyaratan Gmail
  • Klik tombol Langkah berikutnya (lihat contoh gambar di samping)







2. Verifikasi Akun Email Anda

Pada saat anda membuat email di gmail ini anda mungkin akan diminta memverifikasi pendaftaran yang anda lakukan. Masukkan nomor handphone anda dan klik kirim kode verifikasi. Tunggu beberapa saat sampai anda menerima sebuah SMS dari Google.








  • Di dalam SMS itu ada sebuah kode 6 angka unik. Isikan nomor tersebut pada layar verifikasi akun email baru anda.

  • Halaman selamat datang saat Pembuatan email baru Google selesai

    3. Edit Profil Akun Email Anda

    Setelah melakukan verifikasi, anda akan diminta mengedit profil akun email baru anda dengan memasukkan sebuah foto. Tapi kalau anda belum mau mengedit profil, maka silahkan klik langkah berikutnya. Anda bisa mengubah profil anda nantinya dari link pengaturan akun.
    Masukkan foto profil akun Google anda

  • Proses membuat email baru di Google sudah selesai, akan ada layar ramah tamah dari Google. Silahkan klik Lanjutkan ke Gmail

  • 4. Sedikit Pengamanan Pada Akun Gmail Yang Baru Anda Buat

    Dengan mengklik tombol di atas anda akan dibawa masuk ke akun anda. di mana ada 3 buah email dari Google. Sebaiknya anda mencatat tanggal, dan waktu masuk dari email Google itu ke dalam notepad yang berisi password tadi. Karena waktu terkirimnya email tersebut adalah waktu pembuatan email anda. Anda akan membutuhkan data ini jika skenario terburuk atas akun anda terjadi. Maksud saya adalah saat anda ingin mengembalikan akun email Google yang dihack.
    Itulah cara-cara membuat akun email Google alias Gmail yang dilengkapi dengan langkah-langkah awal memproteksi akun anda. Langkah-langkah proteksi seperti membuat password yang rumit, dan mencatat tanggal dan waktu pembuatan email ke dalam sebuah file notepad bisa anda lewatkan jika akun gmail ini tidak terlalu penting bagi anda.

    Sebaliknya, jika anda membuat akun email ini untuk keperluan bisnis, pekerjaan, ataupun sesuatu yang privasi, maka sebaiknya anda melakukan langkah-langkah awal melindungi akun Google anda. Lebih detil akan dibahas di artikel selanjutnya.
     
    Kalau anda saat ini sudah mempunyai akun email tersebut, maka silahkan ikuti prosedur sederhana di bawah ini.

    BAGAIMANA CARA MEMBUAT SENDIRI AKUN BLOG BARU DI BLOGSPOT

    Untuk membuat sebuah akun di blogspot sangatlah mudah. Bahkan anak SD saja sudah banyak yang mengetahui cara ini, jadi saya yakin saudara pun tidak akan mengalami kesulitan di sini.
    1. Silahkan kunjungi alamat www.blogger.com dan masukkan username dan password dari akun Gmail anda.
    2. Dalam halaman dasbor anda akan melihat gambar anda, dan di bawah gambar itu ada sebuah tombol "Blog Baru". Klik pada tombol itu untuk memulai membuat blog anda.
    3. Anda akan melihat sebuah formulir yang harus diisi untuk membuat blog baru anda. Di dalam formulir ini anda diminta mengisi Judul Blog, Alamat Blog, dan Template Dasar.
    4. Panduan untuk anda: 
      • Pastikan Judul, dan Alamat Subdomain yang anda pilih mengandung kata kunci yang anda targetkan. Atau sembarang saja jika anda berniat mengganti subdomain blogspot anda dengan domain sendiri nantinya (entah itu .com, .org, .net, dll). 
      • Untuk bisnis online sangat disarankan untuk mengganti nama domain agar terlihat lebih profesional dan tentunya menunjang SEO jika nama domain anda bisa tepat sama dengan kata kunci yang anda kejar. (Biayanya cuma Rp.100.000/tahun)
    5. Setelah anda selesai di formulir ini silahkan klik tombol BUAT BLOG, dan selesai
    Sampai di sini anda sudah tahu cara membuat blog baru. Tapi blog saudara masihlah blog yang sangat standar dan belum ada isinya. Saudara akan sangat sulit bersaing di Google ataupun di pasar bisnis online jika hanya mengandalkan blog alakadarnya ini.

    Cara Membuat Tampilan Blog Baru Anda Lebih Keren Dan Elegan

    Sekarang blog anda sudah jadi, tapi tampilannya masih sangat standar sekali. Jadi ada baiknya saudara melakukan penggantian template agar tampilan blognya menjadi lebih keren dan lebih profesional. Untuk melakukan ini saudara bisa mengunjungi http://btemplates.com/.

    Anda akan melihat bahwa pada situs btemplates ini ada banyak sekali template yang menarik untuk anda gunakan. Tapi sebelum anda memilih yang mana yang akan anda gunakan untuk membuat blog menjadi lebih keren; ada baiknya anda mengklik dulu link DEMO untuk melihat bagaimana tampilan online dari template ini.
    Anda akan diperlihatkan tampilan dari template yang sudah diterapkan pada sebuah blog. Jika anda menyukainya, maka silahkan mengklik tombol DOWNLOAD yang ada pada navbar paling atas (lihat gambar di bawah)
    Anda akan diarahkan ke halaman detail template dan di sana ada sebuah link download. Silahkan klik pada link tersebut untuk mengunduh template blog yang anda inginkan.
    Akan muncul kotak dialog untuk konfirmasi download anda, klik OK


    Tunggu sampai pengunduhan file ZIP anda selesai. Jika sudah selesai; ekstraksi file ZIP tadi. Anda akan memperoleh sebuah folder yang di dalamnya ada file XML. File inilah yang akan anda upload pada blog baru yang tadi anda buat di blogspot. Pada contoh di bawah ada 2 file XML, yaitu versi dengan slideshow dan tanpa slideshow.
    Sekarang anda sudah mempunyai sebuah template yang keren dan modis yang bisa dipasangkan pada blog yang baru anda buat ini. Tapi bagaimana cara memasang templatenya? Sederhana saja....Masuklah ke menu TEMPLATE dari blog anda dan cari tombol CADANGKAN DAN PULIHKAN di kanan atas layar anda. 
    Akan muncul kotak pop-up. Silahkan klik browse dan buka file XML yang sebelumnya sudah anda ekstraksi dari file ZIP. Setelah anda memilih filenya silahkan klik UNGGAH
    Tunggu sampai unggahan selesai, dan anda akan melihat tampilan dari blog anda sudah berubah sesuai dengan tampilan template blog keren yang sebelumnya anda pilih dan unggah. 

    Sampai di sini anda sudah tahu cara membuat blog sendiri di blogspot, bahkan anda sudah mengganti templatenya. Apakah sudah selesai? Tentu belum. Anda masih harus melakukan sedikit setelan untuk membuat blog baru anda ini lebih SEO Friendly.

    Belajar Cara Membuat Blog Anda Menjadi Lebih SEO Friendly

    Sekarang anda sudah paham bagaimana cara membuat blog dan mengganti tampilannya. Dengan kata lain anda sudah memounyai sebuah blog dan blog itu sudah terlihat keren. Tapi apakah blog anda sudah bisa bersaing di Google? Tentunya bisa saja dicoba, tapi akan jauh lebih mudah jika anda melakukan optimasi SEO terlebih dahulu.
    Apa yang dimaksud dengan SEO itu? SEO dalah usaha untuk membuat blog anda bisa muncul di halaman pencarian Google saat seseorang mencari sesuatu yang berkenaan dengan blog anda. SEO ini ada onpage dan juga ada Offpage. Onpage adalah segala sesuatu yang perlu kita lakukan pada blog kita, sedangkan offpage adalah yang perlu kita lakukan di luar mengedit blog kita.
    Jadi kita di sini cuma bisa melakukan onpagenya saja.... Perlu diingat bahwa anda tidak perlu melakukan ini pada template-template yang sudah diklaim sebagai SEO friendly.

    Cara Membuat Title Tag Blog Anda Menjadi SEO Friendly

    Untuk membuat blog anda menjadi lebih SEO Friendly, maka ini adalah sesuatu yang perlu anda lakukan. Tapi sebelum anda melakukannya perhatikan dulu apakah title tag anda sudah benar atau belum benar? Bagaimana cara mengetahuinya? Mudah saja:
    • Bukalah homepage dari blog anda dan lihat bagian tab dari blog anda apakah menampilkan judul blog anda?
    • Jika sudah, sekarang buka satu artikel anda dan lihat tab browser anda, apakah menampilkan judul artikel anda?
    Jika judul blog sudah ditampilkan di halaman homepage, dan judul artikel sudah ditampilkan di halaman artikel maka itu sudah cukup baik.... Lihat gambar di bawah ini
    Sebaliknya, jika tampilan judul blog anda belum seperti di atas, maka coba gantikan kode <title>.... </title> yang ada di dalam menu TEMPLATE > EDIT HTML agar terlihat seperti di bawah ini:
        <b:if cond='data:blog.pageType == &quot;index&quot;'>
        <title><data:blog.pageTitle/></title>
        <b:else/>
        <title><data:blog.pageName/></title>
        </b:if>
    Jika sudah selesai, tekan tombol jingga SIMPAN TEMPLATE.

    Cara Membuat Meta Description Blog Lebih SEO Friendly

    Untuk membuat meta description dari blog anda menjadi lebih SEO Friendly lakukan langkah-langkah di bawah ini:
    • Buka menu SETELAN > PREFERENSI PENELUSURAN dan lihat bagian paling atas halaman
    • Klik EDIT pada TAG META Deskripsi
    • Pilih Ya
    • Masukkan 150 karakter yang anda anggap mengandung kata kunci yang anda incar dan paling tepat menggambarkan isi dari halaman muka blog anda, karena ini adalah tempat memasukkan meta description untuk homepage.
    • Klik Simpan Perubahan, maka anda sudah mengaktifkan meta description pada blogspot anda.

    Editan Ringan Pada Heading Blogspot Anda

    Setelah anda mengedit 2 hal di atas; kembalilah ke menu TEMPLATE > EDIT HTML dan klik pointer kursor anda di antara kode-kode yang ditampilkan setelah itu tekan CTRL+F.
    • Masukkan kode <h3 dan tekan enter, anda akan di bawah menuju kode tersebut dan ubahlah menjadi <h2. Tekan enter lagi untuk menemukan <h3 yang lainnya dan ubah semuanya menjadi <h2. Jika enter anda tiba-tiba merusak kode, cukup tekan saja CTRL+Z untuk UNDO dan mengembalikan perubahan terakhir
    • Ganti kode <h3 yang ada di kotak pencarian menjadi </h3>, lalu tekan lagi enter untuk mencari semua kode itu dan ubah jadi </h2>.
    • Jika sudah selesai, tekan tombol jingga SIMPAN TEMPLATE.
    Semua perubahan di atas mungkin hanya akan membawa onpage blog anda menjadi 70% SEO Friendly, tapi itu sudah cukup sebagai awalan. Nanti ke depannya anda akan mempelajari teknik-teknik lanjutan untuk membuatnya menjadi lebih SEO lagi....

    Bagaimana Cara Membuat Artikel Di Blog Baru Anda

    Ok, sekarang blognya sudah ada, sudah keren, dan sudah SEO friendly juga, tapi masih kosong dan tidak ada artikelnya. Jadi sekarang saatnya anda belajar cara membuat artikel. Ini sangatlah mudah jadi anda pasti bisa melakukan ini.... Anda cukup mengenali icon-icon yang menjadi fitur di editor posting di blogspot di bawah ini:
    1. JUDUL POS adalah kolom untuk memasukkan JUDUL dari artikel yang anda akan buat. Untuk membuat blog anda bersaing di pencarian Google, pastikan anda meletakkan kata kunci yang anda incar di awal judul.
    2. PUBLIKASIKAN adalah tombol untuk menerbitkan postingan yang anda anggap sudah selesai dan sudah layak terbit.
    3. SIMPAN adalah tombol yang bisa anda gunakan untuk menyimpan ketikan anda dalam bentuk draft jika anda belum bisa menyelesaikannya saat itu juga. Anda bisa mengeditnya lagi nanti dengan membuka menu POS dan mengklik link EDIT di bawah draft yang tersimpan ini.
    4. PRATINJAU adalah tombol untuk melihat bagaimana tampilan dari ketikan anda saat diterapkan dalam template blog anda
    5. TUTUP adalah tombol untuk menutup editor ini
    6. COMPOSE adalah tampilan RICH TEXT saat kita sedang mengetik artikel
    7. HTML adalah tampilan dalam bentuk kode HTML, anda juga bisa membuat kode yang tidak ada pada icon di tampilan ini.
    8. UNDO dan REDO, di mana anda bisa membatalkan atau mengulangi suatu tindakan
    9. FONT FAMILY adalah tombol untuk mengubah jenis huruf yang digunakan dalam pengetikan
    10. FONT SIZE adalah tombol yang digunakan untuk mengubah ukuran dari huruf
    11. FORMAT adalah tombol untuk mengubah suatu text menjadi judul poin pembahasan, atau judul subpoin pembahasan, atau judul dari subsubpoin pembahasan. Sangat direkomendasikan menggunakan fitur ini untuk membuat artikel blog menjadi SEO friendly.
    12. BOLD adalah tombol untuk membuat huruf menjadi cetak tebal. Untuk membuat artikel blog anda lebih SEO, maka sebaiknya pemunculan pertama kata kunci di dalam artikel dicetak tebal
    13. ITALIC adalah tombol untuk membuat cetak miring, selain bold anda juga bisa menggunakan ini dan poin SEOnya sama saja
    14. UNDERLINED adalah tombol untuk memberi garis bawah
    15. STRIKETHROUGH adalah tombol untuk memberi coretan pada tulisan
    16. FONT COLOR adalah tombol untuk mengubah warna teks
    17. FONT HIGHLIGHTS berfungsi untuk memberi sorotan berwarna pada suatu bagian di dalam artikel yang dianggap penting
    18. LINK dipergunakan untuk membuat tautan di dalam artikel anda
    19. MASUKKAN GAMBAR tentu saja untuk memasang gambar di dalam postingan
    20. MASUKKAN VIDEO untuk mengunggah sebuah video ke dalam postingan anda
    21. JUMPBREAK digunakan untuk memotong tampilan artikel saat ditampilkan di halaman muka blog anda. Cukup klik pada suatu titik di dalam artikel anda lalu klik icon jumpbreak ini, maka yang berada di bawah titik yang anda tentukan tadi tidak akan ditayangkan di halaman muka.
    22. RATA TEKS, digunakan untuk mengatur tulisan rata kiri, tengah, kanan, atau imbang.
    23. ORDERED LIST untuk memberi penomoran pada poin-poin artikel.
    24. UNORDERED LIST untuk memberi penandaan pada poin-poin artikel.
    25. QUOTE untuk memberi tampilan khusus pada frasa atau kalimat atau paragraf yang kita anggap sebagai kutipan
    26. REMOVE FORMATTING, untuk membersihkan semua style atau editan yang sudah kita terapkan pada suatu bagian di dalam artikel
    27. CHECK SPELLING, jika anda mau mengecek pengejaan. Sepertinya ini untuk bahasa inggris saja
    28. LEBEL, untuk memberi label kepada tulisan anda sebagai sistem pengelompokan artikel
    29. JADWAL, bisa anda gunakan untuk menentukan waktu artikel akan terbit secara otomatis suatu saat di waktu yang akan datang
    30. TAUTAN PERMANEN bisa anda gunakan untuk membuat URL yang anda inginkan untuk artikel anda
    31. LOKASI untuk memasukkan keterangan tempat di mana anda saat menulis  artikel tersebut
    32. DESKRIPSI PENELUSURAN, ini adalah tempat memasukkan meta description ke dalam artikel. Masukkan penjelasan singkat dari isi artikel anda (max.150 karakter) dan pastikan mengandung kata kunci....
    33. PILIHAN adalah tombol yang berisi opsi HTML untuk mode tulis dan baris baru ketikan anda. Kalau anda bingung, maka abaikan saja.
    Selesai! Sekarang pengetahuan dasar untuk blogging sudah anda miliki. Silahkan kembangkan blog yang baru anda buat ini, atau silahkan juga membuat lagi blog yang baru.
     
     

    Friday, 26 December 2014

    presiden Soekarno pernah berkata "bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya".

    siapa itu pahlawan ?

    pahlawan adalah orang yang ikut memperjuangkan kemerdekaan, baik dengan ikut berperang melawan penjajah maupun dengan membantu mendukung para pejuang.

    bagaimana cara kita menghargai para pejuang atau para pahlawan ?

    selalu berdoa untuk mereka, mengharumkan nama mereka dan terus mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya.

    begitu halnya seorang pahlawan wanita yang berasal dari aceh.Cut Nyak Din. beliau juga merupakan salah seorang pahlawan yang memimpin kaum perempuan di Aceh untuk mengangkat senjata dan menggempur Belanda. beliau berperang layaknya seorang laki-laki banyak tentara belanda menemukan ajalnya di tanah Aceh. beliau akhirnya meninggal di tangan Belanda setelah berjuang menghabiskan ratusan tentara musuh.

    namun, hal ini berbeda perlakuan yang di dapat ketika ia telah tiada. ia memang di angkat menjadi seorang pahlawan nasional Indonesia, tetapi identitas dia sengaja di jelekkan oleh media sekuler. dalam replika gambar yang disebarkan melalui buku-buku pelajaran kepada anak didik menampilkan gambar Cut Nyak Din tanpa menggunakan hijab. padahal beliau merupakan salah seorang pejuang wanita muslimah yang tidak pernah melepaskan hijabnya.

    Jahatnya skenario kaum penjajah,terus ditanamkan kepada anak2 bangsa, sehingga sejarahpun diplintir dan disuguhkan dengan bahasa yang manis,bahkan masuk menjadi memori yang tidak akan terlupakan,pelajaran sejarah.

    Dalam pelajaran sejarah, Banyak pahlawan perempuan Aceh yang digambarkan bersanggul tanpa menggunakan hijab,seperti Cut Nyak Din,Cut Meutia,Panglima Laksamana Malahayati yang merupakan  satu-satunya Angkatan Laut yang dipimpin perempuan pada masa itu.

    Dan masih banyak lagi pahlawan-pahlawan perempuan aceh lainnya yang jasa mereka melebihi jasa seorang pejuang wanita ciptaan belanda yang di angung-agungkan hanya karena berhasil mengisrim seurat kepada anak-anak belanda.

    ingat, semua pejuang wanita yang berasal dari Aceh adalah orang muslim yang taat dan berhijab.

    Dan ternyata seorang penulis buku yang menemukan foto aslinya Cut Nyak Din dari negara penjajah adalah sosok muslimah yang menutup aurat.


    Subhanallah...
    Alhamdulillah...
    Allahu Akbar...
    Semoga menjadi pelajaran bermanfaat buat kita,siapkan diri menjadi anak unggul,dan ibu cerdas,dengan Syariah !!