Aku lebih suka menulis pada malam hari. Itu kulakukan karena saat malam, orang-orang tidur; saat mereka tidur, mimpi-mimpi mereka melayang ke udara malam. Melayang-layang di sana. Ada yang menuju kenyataan. Ada pula yang terjatuh di tengah jalan, di kenyataan entah apa. Ada pula yang terus melayang tanpa tahu berakhir di mana. Dengan menutup mata, aku bisa melihat mimpi-mimpi mereka sejelas saat aku membuka mata. Aku tinggal menuliskannya.
Dan orang yang akan kuceritakan berikut ini adalah seorang lelaki yang bermimpi untuk menjadi seorang pengusaha kaya. Jangan ribut, jangan katakan pada siapapun, ia tinggal di kamar sebelah kamarku. Di rumah pondokan ini, kami tinggal berlima. Namun untuk malam ini, aku hanya akan bercerita tentang mimpi temanku itu, tentang mimpinya menjadi seorang pengusaha kaya.
Ia anak kampung, sama sepertiku. Keturunan nelayan, juga sama sepertiku. Dan ia merokok, tentu tak sama sepertiku. Pada malam ini, aku melihat mimpinya dipenuhi asap rokok. O, bukan, bukan lagi rokok‘ kali ini ia mengisap cerutu. Cerutu asli Kuba, merk Romeo y Julieta. Sambil mengisap cerutu, ia duduk berselonjor dengan kedua kaki di atas meja. Entah meja kerjanya, atau meja di rumahnya, yang satu itu aku tak melihatnya jelas.
Ia duduk sambil mengisap cerutu, kita mulai dari itu.
“Darto!" teriaknya kemudian.
Seorang lelaki, tua, berjas hitam, bersepatu pantopel mengkilat, datang tergopoh-gopoh. Sedikit menunduk ia berujar,
“Ada apa, Tuan?"
“Bikinkan aku kopi! Kopi Toraja yang kemarin, yang kemarin kubawa dari Sulawesi."
“Baik, Tuan," kata pelayan tua itu, sebelum beranjak keluar pintu meninggalkan tuannya.
“Dasar busuk! Kalau saja tak ada dia, aku sudah menang tender itu,‘ temanku mulai menggumam. “Ya, kalau saja tak ada dia, aku sudah memenangkannya. Berapa miliar melayang dari depan wajahku? Sial! Kalau saja tak ada dia!" ia mulai terlihat seperti hendak menendang asbak berukir di atas meja.
Sang pelayan datang. Di tangannya, secangkir kopi dengan penutup aluminium berkilat-kilat oleh cahaya lampu. Bayangan asap cerutu menari-nari di penutup cangkir itu.
“Kalau saja tak ada dia, Darto, kita sudah bertambah kaya! Kalau saja tak ada dia!"
“Dia siapa, Tuan?" Darto menunduk-nunduk.
“Dia‘ Ah, pokoknya dia! Kau tak perlu tahu!" tangan temanku yang mengempit cerutu setengah menunjuk si Darto.
“Panaskan mesin! Kita segera berangkat," temanku bangkit dari kursinya.
“Tapi, Tuan‘ Kopinya?" tegur Darto dengan halus.
“Ada apa dengan kopinya, hah?! Aku yang membeli kopinya, bukan kau! Pergi sana cepat, nyalakan mesin!" temanku berang, matanya membelalak. Di dinding, seolah menjadi cermin baginya, kepala seekor harimau yang diawetkan juga membelalak padanya.
Darto bergegas keluar, mendahului tuannya. Sebelum mesin mobil panas, temanku naik ke belakang, meminta mobil segera berangkat.
“Tapi, Tuan,‘‘ Darto ingin berkata, "Tapi, Tuan, mesinnya belum panas," tetapi tampaknya ia sudah bisa menebak jawaban apa yang akan keluar dari mulut tuannya. Ia pun segera memasukkan persneling dan menginjak gas. Mobil melaju keluar dari halaman rumah besar itu.
“Ke mana, Tuan?"
“Ke mana saja!"
“Eh‘?"
“Pokoknya jalan saja! Nanti kuberitahu!‘ kata temanku ketus. Asap cerutu masih mengepul-ngepul di depannya, membelai-belai rambut Darto, mengelus-elus tengkuknya, bahkan sesekali menutupi pandangannya. Sementara di kaca spion-dalam, tampak tuannya duduk bersandar di jok kursi belakang dengan santai, menggoyang-goyangkan kedua belah paha mengiringi senandung ringan dari mulutnya.
Mobil melintasi dua blok, berbelok ke kiri, lalu menyeberangi tiga simpang empat.
“Ya, berhenti di situ! Rumah berpagar hijau itu!" tunjuk temanku.
“Rumah siapa itu, Tuan?" tanya Darto.
“Rumah embahmu, gundul! Tak perlu banyak tanya! Diberitahu pun kau belum tentu tahu!" sergah temanku.
Mobil menepi, temanku keluar dari mobil. Ia menuju pagar dan segera memencet bel. Priiiiiiiiinng!!! Terdengar keriut pintu dari dalam. Seorang perempuan muda menghampiri pagar. Pintu terbuka dan senyum perempuan itu ikut terbuka.
“Hai, cantik!" kata temanku.
“Hai, Om. Lama tak jumpa, dari mana saja selama ini?" tanya perempuan itu genit.
“Dari hatimu," jawab temanku dengan suara berlagu. Aaaah.
Perempuan itu meleleh. Bukan kiasan, ia memang tampak meleleh dalam mimpi temanku, tetapi secepat itu kembali ke wujudnya semula. Kemudian ia merangkul erat bahu temanku dan membawanya ke dalam. Darto diam memperhatikan. Ia tak berani menggeleng-geleng meski batinnya sudah sedari tadi menggeleng-geleng.
Sebentar kemudian, temanku muncul lagi di depan pintu, berjalan ke arah mobil dan menunduk ke dalam. “Jangan beritahu Ibu, ya! Awas!" ancamnya kepada Darto. Darto -- apa lagi yang bisa ia lakukan? -- mengangguk.
Tepi jalan itu sepi. Hanya tinggal mobil berisi Darto yang duduk di dalam tanpa tahu mesti melakukan apa. Tape mobil rusak sejak sebulan lalu, sampai sekarang belum diperbaiki, meski ia tahu tuannya bahkan mampu memasang satu orkes Melayu di dalam mobil. Karena tiada tawaran lain dari waktu, Darto mencoba tidur. Ia menurunkan sedikit kursinya ke belakang dan mulai berbaring. Pelan-pelan, kantuk menindih matanya. Darto tidur. Ia bermimpi.
Mimpi Darto berjalan-jalan di udara siang, kelayapan kemana-mana. Dan entah bagaimana prosesnya, mimpinya mundur ke belakang, ke masa sekarang -- tepat di waktu malam -- dan kini tampak jelas di luar sana. Mimpinya secara kebetulan berpapasan dengan mimpi temanku, calon tuannya di suatu masa yang entah apakah jadi datang atau tidak.
Dari mimpinya, baru kutahu ternyata Darto telah lama ingin memiliki sepetak tanah, berisi sebuah bangunan, dan bangunan itu kelak dijadikannya rumah pondokan mahasiswa. Darto ingin menjadi bapak kos. Mimpi yang sederhana saja.
“Setelah terima gaji dari tuan itu‘ aku akan membeli tanah, membangun rumah, dan menyewakannya...," igau Darto dalam tidurnya.
“Aku akan...," igaunya lagi. Dalam mimpi itu, ia sebagai bapak kos tengah berjalan ke satu kamar untuk menagih uang bulanan pada seorang penghuninya. Ia berhenti, lalu dengan wibawa tak langsung dari seorang bapak kos, langsung membuka pintu. Kamar menganga, tampaklah temanku sedang tertidur dengan posisi paha mengangkang. Liur menetes di pipinya. “Oh sayang, sayangku‘,‘ igau temanku dalam tidurnya.
Dengan langkah gontai, Darto masuk dan seketika menepuk keras paha temanku. Temanku bangun gelagapan. “Ada apa? Kenapa berhenti? Mana kau, sayang?" ia masih setengah dalam mimpi. Beberapa saat kemudian, ia mendongak. Dipandangnya lelaki tua yang berdiri di hadapannya.
“Lho, andakan Darto?" tunjuk temanku, teringat seseorang.
“Apa? Darto? Aku bapak kosmu, tahu?! Kau sudah menunggak tiga bulan! Jika tidak bisa kau lunasi sekarang, segera angkat kaki dari kamar ini!" kata Darto yang sekarang menjadi bapak kos dalam mimpinya sendiri.
“Tidak bisa begitu dong, Pak," temanku terlihat kesal. “Anda datang langsung membangunkan saya dengan kasar. Ini tidak berperikemanusiaan! Menagih seseorang juga bisa dengan bahasa yang santun. Anda jangan semena-mena seperti itu, dong! Masuk kamar orang dengan paksa, membangunkannya dengan paksa pula." Temanku mulai berdiri, sebentar lagi kukira mereka akan berkelahi.
“Jadi kau mau apa, hah?! Kau mau apa?!" Darto sebagai bapak kos mulai maju, mendorong-dorong temanku mundur hingga ke dinding.
Temanku menciut. Ia menunduk sambil menggoyang-goyangkan kepalanya tak jelas seperti babi. “Yaaa...," keluar dari mulutnya. “Bukan apa-apa, sih," suaranya mulai pelan. “Tapi...," suaranya menggantung.
“Tapi apa, hah?! Tapi apa? Sudah menunggak tiga bulan masih saja mau mengelak, malah mau melawan. Mau melawan, kau, hah?!" Darto sebagai bapak kos mulai menarik leher temanku dan mengangkatnya ke atas, semakin rapat dengan dinding.
Temanku tercekat. “Tidak, Pak, tidak," ia berusaha menahan lengan Darto yang kokoh itu. “Tapi maksud saya, kita masih bisa membicarakannya baik-baik, bukan?"
Darto menurunkan temanku. Ia sedia berbaik-baik pada temanku. Secepat kakinya kembali menginjak lantai, secepat itu pula temanku melecut ke lemari, membukanya, dan mengeluarkan amplop kiriman ibunya dua hari yang lalu. Isinya sudah habis setengah, untuk rokok dan mentraktir si Lela‘‘pacarnya.
“Cuma segini, Pak,‘ ia menyodorkannya pada Darto. “Mudah-mudahan pertengahan bulan kiriman ibu datang lagi, saya akan bayar penuh saat itu juga."
Darto mengambil paksa amplop dari tangan temanku. Ia mulai pasrah. Mau apa lagi, cuma segini yang bisa kudapatkan dari mahasiswa korengan ini, mungkin itu pikirnya.
“Awas kalau bohong!" mata Darto mendelik, kemudian ia berbalik, hendak meninggalkan kamar.
“Terima kasih, Pak," kata temanku. “Saya akan selalu mengingat kebaikan hati Bapak. Kelak saya kaya, saya tak akan pernah melupakannya." Temanku tersenyum manis‘‘sangat manis malah.
Darto pun keluar. Temanku menepuk dada -- selamat, selamat, lirihnya.
“Woi! Bangun! Tidur saja kerjanya!"
Darto megap-megap sejenak seperti ikan. Pelan-pelan ia mulai mengenali tuannya. Namun belum sepenuhnya keluar dari mimpinya tadi. “Lho, apa lagi? Bukankah kau sudah bayar setengah tadi?‘ ia mengigau dengan suara tak jelas, namun tuannya mendengarnya.
“Apanya yang setengah? Tadi aku sudah bayar perempuan itu satu bulan penuh! Ayo, bangun! Kita pulang," kata tuannya, yang tak lain temanku dalam mimpinya.
“Langsung pulang, Tuan? Tidak ke kantor dulu? Masih pagi," kata Darto berbasa-basi sebelum menyalakan mesin. Kali ini ia sudah sepenuhnya sadar, namun tak akan pernah sadar sedang berada di dalam mimpi temanku.
“Untuk apa kau mengatur-aturku, hah?!" temanku mendorong kepala Darto dari belakang. “Banyak tanya kau ini. Bila masih seperti itu, bulan depan kau kuganti!"
“Wah, jangan, Tuan, jangan," kata Darto memelas di depan kaca spion-dalam yang memantulkan bayangan tuannya.
Aku terkekeh melihat mimpi temanku. Sampai pagi menjelang, aku masih asyik menikmati kejadian-kejadian konyol dalam mimpi itu‘‘kehidupan Darto di bawah kata-kata kasar tuannya. Selama malam itu, untuk pertama kalinya aku tidak menuliskannya. Betul-betul hanya menikmati sajian mimpi itu hingga aku tertidur.
Pagi hari, aku bangun seperti biasa, bersiap untuk berangkat kuliah. Baru saja membuka pintu, kulihat di depan pintu kamar temanku sudah berdiri bapak kos kami yang tua, galak, dan suka berlaku kasar. Namanya Pak Darto. Sedari tadi aku tak mendengar sedikit pun suara dari kamar sebelah. Mungkin temanku masih tidur, mungkin ia masih bermimpi.
.
Bojo, Oktober 2011
by: Muliadi Gf, lahir dan tinggal di Barru, Sulawesi Selatan
catatan : Cerpen ini pertama dimuat di Jurnal Nasional, 15 April 2012.
Dan orang yang akan kuceritakan berikut ini adalah seorang lelaki yang bermimpi untuk menjadi seorang pengusaha kaya. Jangan ribut, jangan katakan pada siapapun, ia tinggal di kamar sebelah kamarku. Di rumah pondokan ini, kami tinggal berlima. Namun untuk malam ini, aku hanya akan bercerita tentang mimpi temanku itu, tentang mimpinya menjadi seorang pengusaha kaya.
Ia anak kampung, sama sepertiku. Keturunan nelayan, juga sama sepertiku. Dan ia merokok, tentu tak sama sepertiku. Pada malam ini, aku melihat mimpinya dipenuhi asap rokok. O, bukan, bukan lagi rokok‘ kali ini ia mengisap cerutu. Cerutu asli Kuba, merk Romeo y Julieta. Sambil mengisap cerutu, ia duduk berselonjor dengan kedua kaki di atas meja. Entah meja kerjanya, atau meja di rumahnya, yang satu itu aku tak melihatnya jelas.
Ia duduk sambil mengisap cerutu, kita mulai dari itu.
“Darto!" teriaknya kemudian.
Seorang lelaki, tua, berjas hitam, bersepatu pantopel mengkilat, datang tergopoh-gopoh. Sedikit menunduk ia berujar,
“Ada apa, Tuan?"
“Bikinkan aku kopi! Kopi Toraja yang kemarin, yang kemarin kubawa dari Sulawesi."
“Baik, Tuan," kata pelayan tua itu, sebelum beranjak keluar pintu meninggalkan tuannya.
“Dasar busuk! Kalau saja tak ada dia, aku sudah menang tender itu,‘ temanku mulai menggumam. “Ya, kalau saja tak ada dia, aku sudah memenangkannya. Berapa miliar melayang dari depan wajahku? Sial! Kalau saja tak ada dia!" ia mulai terlihat seperti hendak menendang asbak berukir di atas meja.
Sang pelayan datang. Di tangannya, secangkir kopi dengan penutup aluminium berkilat-kilat oleh cahaya lampu. Bayangan asap cerutu menari-nari di penutup cangkir itu.
“Kalau saja tak ada dia, Darto, kita sudah bertambah kaya! Kalau saja tak ada dia!"
“Dia siapa, Tuan?" Darto menunduk-nunduk.
“Dia‘ Ah, pokoknya dia! Kau tak perlu tahu!" tangan temanku yang mengempit cerutu setengah menunjuk si Darto.
“Panaskan mesin! Kita segera berangkat," temanku bangkit dari kursinya.
“Tapi, Tuan‘ Kopinya?" tegur Darto dengan halus.
“Ada apa dengan kopinya, hah?! Aku yang membeli kopinya, bukan kau! Pergi sana cepat, nyalakan mesin!" temanku berang, matanya membelalak. Di dinding, seolah menjadi cermin baginya, kepala seekor harimau yang diawetkan juga membelalak padanya.
Darto bergegas keluar, mendahului tuannya. Sebelum mesin mobil panas, temanku naik ke belakang, meminta mobil segera berangkat.
“Tapi, Tuan,‘‘ Darto ingin berkata, "Tapi, Tuan, mesinnya belum panas," tetapi tampaknya ia sudah bisa menebak jawaban apa yang akan keluar dari mulut tuannya. Ia pun segera memasukkan persneling dan menginjak gas. Mobil melaju keluar dari halaman rumah besar itu.
“Ke mana, Tuan?"
“Ke mana saja!"
“Eh‘?"
“Pokoknya jalan saja! Nanti kuberitahu!‘ kata temanku ketus. Asap cerutu masih mengepul-ngepul di depannya, membelai-belai rambut Darto, mengelus-elus tengkuknya, bahkan sesekali menutupi pandangannya. Sementara di kaca spion-dalam, tampak tuannya duduk bersandar di jok kursi belakang dengan santai, menggoyang-goyangkan kedua belah paha mengiringi senandung ringan dari mulutnya.
Mobil melintasi dua blok, berbelok ke kiri, lalu menyeberangi tiga simpang empat.
“Ya, berhenti di situ! Rumah berpagar hijau itu!" tunjuk temanku.
“Rumah siapa itu, Tuan?" tanya Darto.
“Rumah embahmu, gundul! Tak perlu banyak tanya! Diberitahu pun kau belum tentu tahu!" sergah temanku.
Mobil menepi, temanku keluar dari mobil. Ia menuju pagar dan segera memencet bel. Priiiiiiiiinng!!! Terdengar keriut pintu dari dalam. Seorang perempuan muda menghampiri pagar. Pintu terbuka dan senyum perempuan itu ikut terbuka.
“Hai, cantik!" kata temanku.
“Hai, Om. Lama tak jumpa, dari mana saja selama ini?" tanya perempuan itu genit.
“Dari hatimu," jawab temanku dengan suara berlagu. Aaaah.
Perempuan itu meleleh. Bukan kiasan, ia memang tampak meleleh dalam mimpi temanku, tetapi secepat itu kembali ke wujudnya semula. Kemudian ia merangkul erat bahu temanku dan membawanya ke dalam. Darto diam memperhatikan. Ia tak berani menggeleng-geleng meski batinnya sudah sedari tadi menggeleng-geleng.
Sebentar kemudian, temanku muncul lagi di depan pintu, berjalan ke arah mobil dan menunduk ke dalam. “Jangan beritahu Ibu, ya! Awas!" ancamnya kepada Darto. Darto -- apa lagi yang bisa ia lakukan? -- mengangguk.
Tepi jalan itu sepi. Hanya tinggal mobil berisi Darto yang duduk di dalam tanpa tahu mesti melakukan apa. Tape mobil rusak sejak sebulan lalu, sampai sekarang belum diperbaiki, meski ia tahu tuannya bahkan mampu memasang satu orkes Melayu di dalam mobil. Karena tiada tawaran lain dari waktu, Darto mencoba tidur. Ia menurunkan sedikit kursinya ke belakang dan mulai berbaring. Pelan-pelan, kantuk menindih matanya. Darto tidur. Ia bermimpi.
Mimpi Darto berjalan-jalan di udara siang, kelayapan kemana-mana. Dan entah bagaimana prosesnya, mimpinya mundur ke belakang, ke masa sekarang -- tepat di waktu malam -- dan kini tampak jelas di luar sana. Mimpinya secara kebetulan berpapasan dengan mimpi temanku, calon tuannya di suatu masa yang entah apakah jadi datang atau tidak.
Dari mimpinya, baru kutahu ternyata Darto telah lama ingin memiliki sepetak tanah, berisi sebuah bangunan, dan bangunan itu kelak dijadikannya rumah pondokan mahasiswa. Darto ingin menjadi bapak kos. Mimpi yang sederhana saja.
“Setelah terima gaji dari tuan itu‘ aku akan membeli tanah, membangun rumah, dan menyewakannya...," igau Darto dalam tidurnya.
“Aku akan...," igaunya lagi. Dalam mimpi itu, ia sebagai bapak kos tengah berjalan ke satu kamar untuk menagih uang bulanan pada seorang penghuninya. Ia berhenti, lalu dengan wibawa tak langsung dari seorang bapak kos, langsung membuka pintu. Kamar menganga, tampaklah temanku sedang tertidur dengan posisi paha mengangkang. Liur menetes di pipinya. “Oh sayang, sayangku‘,‘ igau temanku dalam tidurnya.
Dengan langkah gontai, Darto masuk dan seketika menepuk keras paha temanku. Temanku bangun gelagapan. “Ada apa? Kenapa berhenti? Mana kau, sayang?" ia masih setengah dalam mimpi. Beberapa saat kemudian, ia mendongak. Dipandangnya lelaki tua yang berdiri di hadapannya.
“Lho, andakan Darto?" tunjuk temanku, teringat seseorang.
“Apa? Darto? Aku bapak kosmu, tahu?! Kau sudah menunggak tiga bulan! Jika tidak bisa kau lunasi sekarang, segera angkat kaki dari kamar ini!" kata Darto yang sekarang menjadi bapak kos dalam mimpinya sendiri.
“Tidak bisa begitu dong, Pak," temanku terlihat kesal. “Anda datang langsung membangunkan saya dengan kasar. Ini tidak berperikemanusiaan! Menagih seseorang juga bisa dengan bahasa yang santun. Anda jangan semena-mena seperti itu, dong! Masuk kamar orang dengan paksa, membangunkannya dengan paksa pula." Temanku mulai berdiri, sebentar lagi kukira mereka akan berkelahi.
“Jadi kau mau apa, hah?! Kau mau apa?!" Darto sebagai bapak kos mulai maju, mendorong-dorong temanku mundur hingga ke dinding.
Temanku menciut. Ia menunduk sambil menggoyang-goyangkan kepalanya tak jelas seperti babi. “Yaaa...," keluar dari mulutnya. “Bukan apa-apa, sih," suaranya mulai pelan. “Tapi...," suaranya menggantung.
“Tapi apa, hah?! Tapi apa? Sudah menunggak tiga bulan masih saja mau mengelak, malah mau melawan. Mau melawan, kau, hah?!" Darto sebagai bapak kos mulai menarik leher temanku dan mengangkatnya ke atas, semakin rapat dengan dinding.
Temanku tercekat. “Tidak, Pak, tidak," ia berusaha menahan lengan Darto yang kokoh itu. “Tapi maksud saya, kita masih bisa membicarakannya baik-baik, bukan?"
Darto menurunkan temanku. Ia sedia berbaik-baik pada temanku. Secepat kakinya kembali menginjak lantai, secepat itu pula temanku melecut ke lemari, membukanya, dan mengeluarkan amplop kiriman ibunya dua hari yang lalu. Isinya sudah habis setengah, untuk rokok dan mentraktir si Lela‘‘pacarnya.
“Cuma segini, Pak,‘ ia menyodorkannya pada Darto. “Mudah-mudahan pertengahan bulan kiriman ibu datang lagi, saya akan bayar penuh saat itu juga."
Darto mengambil paksa amplop dari tangan temanku. Ia mulai pasrah. Mau apa lagi, cuma segini yang bisa kudapatkan dari mahasiswa korengan ini, mungkin itu pikirnya.
“Awas kalau bohong!" mata Darto mendelik, kemudian ia berbalik, hendak meninggalkan kamar.
“Terima kasih, Pak," kata temanku. “Saya akan selalu mengingat kebaikan hati Bapak. Kelak saya kaya, saya tak akan pernah melupakannya." Temanku tersenyum manis‘‘sangat manis malah.
Darto pun keluar. Temanku menepuk dada -- selamat, selamat, lirihnya.
“Woi! Bangun! Tidur saja kerjanya!"
Darto megap-megap sejenak seperti ikan. Pelan-pelan ia mulai mengenali tuannya. Namun belum sepenuhnya keluar dari mimpinya tadi. “Lho, apa lagi? Bukankah kau sudah bayar setengah tadi?‘ ia mengigau dengan suara tak jelas, namun tuannya mendengarnya.
“Apanya yang setengah? Tadi aku sudah bayar perempuan itu satu bulan penuh! Ayo, bangun! Kita pulang," kata tuannya, yang tak lain temanku dalam mimpinya.
“Langsung pulang, Tuan? Tidak ke kantor dulu? Masih pagi," kata Darto berbasa-basi sebelum menyalakan mesin. Kali ini ia sudah sepenuhnya sadar, namun tak akan pernah sadar sedang berada di dalam mimpi temanku.
“Untuk apa kau mengatur-aturku, hah?!" temanku mendorong kepala Darto dari belakang. “Banyak tanya kau ini. Bila masih seperti itu, bulan depan kau kuganti!"
“Wah, jangan, Tuan, jangan," kata Darto memelas di depan kaca spion-dalam yang memantulkan bayangan tuannya.
Aku terkekeh melihat mimpi temanku. Sampai pagi menjelang, aku masih asyik menikmati kejadian-kejadian konyol dalam mimpi itu‘‘kehidupan Darto di bawah kata-kata kasar tuannya. Selama malam itu, untuk pertama kalinya aku tidak menuliskannya. Betul-betul hanya menikmati sajian mimpi itu hingga aku tertidur.
Pagi hari, aku bangun seperti biasa, bersiap untuk berangkat kuliah. Baru saja membuka pintu, kulihat di depan pintu kamar temanku sudah berdiri bapak kos kami yang tua, galak, dan suka berlaku kasar. Namanya Pak Darto. Sedari tadi aku tak mendengar sedikit pun suara dari kamar sebelah. Mungkin temanku masih tidur, mungkin ia masih bermimpi.
.
Bojo, Oktober 2011
by: Muliadi Gf, lahir dan tinggal di Barru, Sulawesi Selatan
catatan : Cerpen ini pertama dimuat di Jurnal Nasional, 15 April 2012.
20:46
Unknown

0 comments :
Post a Comment