Friday, 2 January 2015


Kurasakan detik demi detik waktu bersenang-senang kian menipis. Sebulan yang lalu aku diyudisium dan sejak saat itu resmilah aku bukan mahasiswa lagi. Aku pulang ke kampung membawa gelar sarjanaku dan setelah memperlihatkannya pada kedua orangtuaku, yang Alhamdulillah masih hidup ketika aku berhasil menjadi sarjana, aku mulai menghabiskan waktu dengan makan, tidur, makan, tidur, dan merokok.

Tapi beberapa hari ini aku merasa waktu untuk itu akan segera habis. Api dari rokok yang kuhisap akan segera mencapai filternya. Dan pelan-pelan dalam hatiku tumbuh semacam rencana yang tak dapat kuungkapkan dengan jelas dalam bentuk kata-kata. Mengapa? Aku tak tahu. Yang kutahu, meski dengan samar, waktuku bersenang-senang akan segera berakhir.

Lalu tiga hari kemudian, api rokok itu betul-betul mencapai filternya. Aku bangun di pagi hari dan heran pada diri sendiri karena bisa bangun sepagi itu. Pukul 6 tepat. Untuk menyegarkan diri, aku duduk di tangga rumah. Langit di atas sana tampak begitu bening. Daun-daun mangga depan rumah terlihat sangat hijau seolah baru tumbuh kemarin. Aku mendapat perasaan bahwa duniaku baru akan dimulai saat itu. Aku tak lagi memikirkan apa yang telah terjadi kemarin dan di masa-masa sebelum itu. Tepatnya, aku betul-betul-sangat-tidak-tertarik memikirkannya. Di kepalaku, seolah-olah ada sebuah godam yang memukul terus-menerus, dan gemanya berulang-ulang seperti ini.

Apa selanjutnya? Apa selanjutnya?

“Nak,” ibu memukul lembut pundakku. Aku terkejut dan menoleh ke belakang.

Mulutku membuka seolah berkata ‘ada apa’.

“Nak,” kata ibu, “daripada berdiam diri seperti itu, apalagi masih pagi, mungkin ada baiknya kalau kau mengelap tangga.”

Oooo, batinku. Aku mengangguk. Setelah itu ibu menuruni tangga dan aku memperhatikan punggungnya. Ia mengenakan sarung sampai di bagian dada. Terlihat tali kutangnya yang putih simetris di bagian punggungnya, seperti tali ayunan.

Baik, kita mulai dengan mengelap tangga, cetusku dalam hati. Aku bangkit, menuruni tangga, lalu mengambil kain lap yang tersampir di bunga-bunga. Agak lembab. Aku menyiramnya di dekat sumur, memerasnya, lalu kembali ke arah tangga dan mulai menggosok-gosokkan kain itu mulai dari anak tangga paling atas. Setelah semuanya selesai, termasuk mengeringkan kembali kain itu di taman kecil dekat tangga, aku berjalan-jalan ke samping rumah.

Di sana-sini terdapat genangan sisa hujan deras malam tadi. Rumput-rumput bercuatan seperti model rambut baru. Agak jauh di sudut pagar, melintang kesana-kemari ranting-ranting kayu, teronggok tak karuan, seperti belalang-belalang besar sedang bergelut. Comberan tempat limbahan air dari dapur di atas rumah, meluap hingga sulit dibedakan dengan genangan hujan biasa andaikata larutan hitamnya tidak kentara. Mengambang bau busuk dari sekitar tempat itu. Aku baru sadar betapa kotornya rumahku. Di kolong rumah, berjuntaian jaring laba-laba seperti kelambu rusak.

“Ya, mungkin bagus kalau kau cabut rumput-rumput itu, Nak. Lihat, kotor sekali!” ibu sekali lagi mengagetkanku. Badannya masih basah. Ia baru saja mandi.

Hmm, sebenarnya beberapa detik yang lalu juga timbul dalam hatiku untuk mencabuti rumput-rumput itu. Tapi setelah mendengar ibu, hatiku seperti merah padam lalu redup. Dari dulu aku tak suka ditunjuk-tunjuk, diatur-atur, dipaksa-paksa, dan aku tak akan melakukan apapun itu jika demikian caranya. Akan kulakukan jika memang itu mauku, prinsipku. Amatlah sulit bagiku membayangkan diri menjadi perpanjangan tangan dari keinginan orang lain. Bahkan itu termasuk orangtuaku? Ya, kukira begitu.

Tapi, waktu seakan mengambang perlahan.

Ada sedikit jeda bagiku untuk memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi.

Begini. Usiaku sudah 24 tahun. Aku telah memegang prinsip itu bertahun-tahun lamanya hingga sekarang. Tidakkah aku bosan? Tentu saja. Aku bosan. Namun, hidup dengan memegang teguh pendirian adalah sesuatu yang menantang dalam hidup seorang anak muda. Ada heroisme di sana. Setidaknya bagi diriku pribadi.

Tapi, lihatlah sekelilingmu. Rumput-rumput tinggi, kesemrawutan dari onggokan ranting-ranting kayu, dan bau makhluk-makhluk tak terlihat dari comberan, dan seterusnya, dan seterusnya. Tidakkah kau juga bosan dengan ini?

Tentu saja, kataku lagi dalam hati. Sekarang, mungkin ini yang lebih penting.

Bagaimana dengan perjuangan untuk lepas dari kungkungan orangtua? Pemberontakan terhadap telunjuk orangtua yang penuh tuntutan? Hmm, seiring waktu tema itu menjadi tidak menarik lagi. Kurasa demikian. Apalagi, tadi, tanpa kusadari, aku telah melakukan apa yang dikatakan ibu. Sebuah pekerjaan sederhana bernama ‘mengelap tangga’. Yah, mungkin ini juga adalah sebuah tanda.

Aku tersenyum. Senyum yang sangat manis jika ditempatkan di tengah kesemrawutan halaman samping rumahku. Senyum yang penuh vitalitas. Senyum yang kubawa-bawa hingga aku mulai mencabuti rumput-rumput itu.

Begitulah.

Setelah berlangsung setengah jalan, aku kelelahan. Sudahlah, tidak perlu memaksakan diri, kata batinku. Memaksakan diri adalah pekerjaan orang tua. Aku masih muda. Aku setuju. Setelah berjongkok beberapa lama dengan tangan menggantung di atas lutut, aku bangkit. Aku bermaksud untuk mencukupkan pekerjaan hari itu dan naik ke atas rumah untuk beristirahat.

Sekonyong-konyong pandanganku teralihkan ke arah comberan di bawah dapur. Air hitam itu meluap. Lalat-lalat bergentayangan di atasnya. Batu-batu yang ditumpuk di situ kini tidak tampak. Tenggelam oleh tanah berlumpur. Hatiku trenyuh. Mungkin ini bisa kukerjakan esok hari. Tapi sungguh, semakin lama melihatnya, semakin aku tidak tahan dibuatnya.

Semangat baru seperti jika menjajal sebuah hal baru, muncul menggantikan kepenatanku. Aku menggeledah kandang ayam mencari cangkul. Beberapa lama kemudian, karena kelelahan pikiranku mulai melayap kemana-mana lalu bertengger di atas pohon mangga. Dari atas sana, aku melihat diriku sendiri sedang mencangkul di bawah. Saluran air yang dulu, yang menghubungkan comberan dengan tempat pembuangan terakhir, kini tertutup timbunan tanah, akibatnya comberan mampet, dan airnya meluap. Pekerjaanku sederhana saja, menggali kembali saluran air itu hingga air comberan dapat mengalir dengan leluasa ke arah tempat pembuangan terakhir. Namun, untuk orang yang selama enam tahun lamanya hanya bergelut dengan buku saja, pekerjaan itu sungguh sangat melelahkan.

Setelah selesai, kurasakan pikiranku kembali menyatu dengan tubuhku. Keringat mengucur deras seirama aliran air dari arah comberan. Meski kelelahan, aku sangat puas. Yap, aku puas. Dan sangat lega. Seolah-olah dua batang pohon telah tumbuh di bahuku dan kini tercabut dengan akar-akarnya. Berikut tumbang pula semua pertanyaan tentang apa yang akan kulakukan setelah tinggal kembali di kampung.

Lihat! Di anak tangga terbawah aku duduk sembari mengedarkan pandang ke sekeliling rumah. Tanah ini cukup luas, tapi sangat kotor. Aku lahir di sini, tapi semua tampak asing bagiku. Setelah itu timbul pikiranku, buat apa jauh-jauh mendaki gunung, kalau lingkungan sendiri tidak diakrabi.

Aku tersenyum.

Begitulah, begitulah. Begitulah semuanya bermula.

Jika kau menganggap ini hanya bualan saja. Kukatakan dengan tegas, ya, ini betul-betul terjadi padaku di hari itu.

.

Bojo, September 2010
by : Muliadi Gf

Sekarang sore hari, menjelang magrib. Sedikit demi sedikit, gelap merambat masuk lewat jendela, memenuhi kamar. Kegelapan yang lebih pekat di belakang pintu seakan datang lebih dulu mewakili malam yang juga sebentar lagi sampai.

Apa yang ada di hadapanku sekarang adalah meja, yang diduduki asbak bumbung puntung rokok, sebentuk korek gas warna kuning, penggaris 30 sentimeter, bungkus rokok yang terbuka, dua buah pulpen, empat buah buku fiksi murahan, kamus tebal, pensil grafit, buku lukisan Toulouse-Lautrec*, dan, selembar baju. Dan di depan semua itu, seolah perwakilan dunia luar atas diriku, sebuah buku tulis yang terbuka dan sebentuk pulpen yang kupegang dengan tangan kanan.

Iring-iringan malam sebagian sudah sampai. Iring-iringan yang sunyi. Sebagian lagi masih di luar. Sebagian yang di dalam mulai duduk di atas buku tulisku. Kata-kata yang telah kutuliskan diam saja diserbu seperti itu. Mulai gelap. Aku menyalakan lampu. Seketika gelap menghambur, dan kembali kata-kataku terlihat jelas di atas kertas.

Aku membuka buku lukisan Toulouse-Lautrec. Garis-garis magis pelukis itu menyala disorot cahaya lampu. Di halaman 4, lukisan In the Belle Epoque. Kutinggalkan. Aku kembali ke rokokku.

Suara tapak-tapak kaki keponakanku berlari-lari di atas lantai kayu, seakan tak peduli azan Maghrib sedang berkumandang. Sebelum rokok di tanganku habis, aku belum akan bangkit dari depan meja. Namun ibu datang, membuka pintu kamar, sedetik kemudian menguar suara kandang ayam dari mulutnya.

“Maghrib, bangkitlah!”—intinya.

Kutatap lekat-lekat bara rokokku seakan berat berpisah. Kuhisap sekali lagi—ini yang terakhir—sebelum kutenggelamkan nyalanya di genangan abu rokok lautku, asbakku.

Sore berakhir. Maghrib berkuasa.

Selepas makan malam, aku kembali ke meja.

Tanpa kutahu, menit-menit jeda sebelum itu telah memberimu kesempatan untuk datang, tanpa mengetuk pintu, tanpa membuka pintu, tanpa lewat pintu, menembus segala pembatas, langsung menuju kamar. Sehembus hawa hangat yang akrab terasa di tengkukku saat terdengar suaramu, “Apa yang sedang kau tulis?” Aku berbalik. Kau telah ada di belakangku.

Kau maju ke muka. Kita sejajar di depan meja.

“Suasana. Aku menulis suasana,” jawabku kemudian.

“Mengapa tidak kau gambar?—seperti biasa?” tanyamu.

“Terlalu luas. Aku belum mampu memampatkannya hanya dalam selembar kertas. Seperti Toulouse-Lautrec,” daguku menunjuk buku itu.

Saat kau ada di sini, entah kenapa aku jadi semakin lambat menulis. Waktu seakan membelah diri menjadi waktu-waktu yang lebih kecil kemudian membelah lagi menjadi waktu-waktu yang jauh lebih kecil lagi, begitu seterusnya. Dan saat waktu itu membagi, kau selalu ada di sana. Kau menjadi kau yang lebih kecil sebelum membelah lagi menjadi kau yang jauh lebih kecil lagi, dan begitu seterusnya. Mungkin hanya dagumu, bibirmu, lancip hidungmu, matamu, telingamu, yang terlihat di dalamnya. Tapi bahkan dagumu, bibirmu, hidungmu, matamu, telingamu itu, sudah cukup mampu menahan pulpenku mengambang di atas meja tanpa menulis satu pun kata.

Ah! Aku mendesah.

Lalu kita berdua diam. Diam yang sangat lama. Diam yang menyadarkanku pada hujan yang telah reda sedari tadi. Entah kapan.

Kau tak tahu harus bicara apa. Kau lalu meraih buku tulisku dan membacanya dari awal. Membacanya dengan suara keras, terdengarlah derum mesin dalam kecepatan tinggi.

“Hei!” tegurku. “Bacalah lebih lambat. Kau hanya akan menemukan kata-kata bila seperti itu. Ini suasana, aku sedang menggambarkan suasana. Biarkan suasana itu membentuk ulang dirinya saat kau membaca.”

Kau berhenti mendengarku dan mulai membaca lagi. Kali ini lebih lambat. Nada suaramu juga lebih pelan. Seperti berbisik di ruangan gelap.

Lalu pelan-pelan malam beranjak pulang, bukan menuju pagi, tetapi menuju sore tadi.

Kau melompat dan mendarat lembut di atas buku. Masih dengan serius memperhatikan aku menulis, saat kaki-kaki kecil hujan mulai melompat-lompat di atap rumah. Hawa dingin masuk. Aku melihat kau bergerak meraih jaket di gantungan baju, menutup tubuhku.

Saat itulah, saat kau memakaikan jaketku, kau baru menyadari kehadiran seorang perempuan di belakangku. Kau tak mengenalinya.

“Siapa dia?”

“Itu kau,” kataku.

Kau memutariku, mendekati perempuan itu. Mengamatinya lekat-lekat, menyentuhnya sesekali dengan ujung jari, mengatakan kata-kata tanpa suara yang tak terdengar oleh siapapun. Kau berpikir. Bingung.

“Sejak kapan ia, atau itu aku, ada di sini?”

“Ia memang selalu ada di sana. Sudah sejak lama,” kataku lalu kembali ke buku tulisku, meneruskan catatanku.

“Apa yang dilakukannya?” tanyamu lagi.

“Lihat saja,” kataku, masih terus menulis.

Lalu perempuan itu maju dan mulai menunjuk benda satu-satu. Kau terus memperhatikannya, silih berganti antara benda yang ditunjuknya dan wajahnya, yang tak lain wajahmu sendiri. Lalu perempuan itu berdiri ragu. Di belakangku, jemarinya bergerak naik ke kepalaku. Kau masih diam memperhatikan saat perempuan itu membuka kepalaku seolah sedang membuka buku yang sangat besar. Ia lalu mengeluarkan pantai dan kulit kerang. Aku menggeleng melihat pantai itu, dan ia mengembalikannya. Kini di tangannya hanya kulit kerang. Ia meletakkannya di atas meja, menyatu dengan asbakku.

Lalu ia menyalakan lampu. Dan menyulutkan rokokku. Kau mulai membayangkan beberapa jam kemudian kau akan melakukan hal yang sama, dengan gerakan yang sama sekali sama, dengan kelembutan yang sama.

Tak peduli pada keherananmu, perempuan itu menunjuk buku Toulouse-Lautrec. Halaman 4, In The Belle Epoque. Perempuan itu membuka sebuah lukisan Toulouse-Lautrec, yang tengah menggambarkan suasana dansa-dansi di Moulin Rouge. Perempuan itu melompat masuk, kau mengikutinya. Saat perempuan itu menari, kau memandangnya sekali lalu bergerak lebih bebas, lebih liar, lebih panas, darinya. Perempuan itu menambah cepat gerakannya, kau berusaha melewatinya dengan gerakan yang cepat pula. Gerakan kakimu menghentak-hentak lantai dansa, di mataku tak seperti kegembiraan, tetapi lebih mirip kemarahan. Saat itulah aku mulai merasa ada yang salah.

Kau keluar dari lukisan, meninggalkan perempuan itu, dengan terengah-engah. Sekujur tubuhmu penuh keringat. Bulir-bulir keringat menciprat ke wajahku saat kau berkata dengan keras.

“Katakan sejujurnya, siapa dia?!”

“Bukan siapa-siapa, dia itu kau,” jawabku tetap tenang.

“Bohong! Katakan saja!”

“Coba lihatlah dia!” aku menunjuk. Wajahnya, matanya, tangan dan kakinya, semua milikmu. Menyerupaimu.

“Lalu mengapa ia bisa ada di sini?” katamu sedikit lebih tenang, meski dengan mata yang mengancam. “Mengapa ia bisa ada di belakangmu, terus-menerus di sana, dan berlaku seolah kalian telah bersama sekian lama?!”

Aku tak mampu menjawabnya.

Aku tak tahu, benakku. Aku mulai mengingat tanggal-tanggal, sekian pertemuan, dan tempat-tempat. Sebelum aku merumuskannya dalam ingatan yang lebih padat, kau mengajukan pertanyaan baru.

“Sejak kapan ia ada di sana?”

“Mungkin… Sejak kita terakhir kali bertemu.”

“Maksudmu?”

Aku mulai merasa semuanya sedikit lebih jelas kini, maka kataku, “Mungkin ia semacam perlambang saja, bahwa aku selalu mengingatmu, aku selalu merindukanmu, sejak terakhir kali kita bertemu.”

Kau diam tak mengerti. Bingung.

“Mungkin ia adalah ingatanku sendiri tentangmu,” kataku lagi. “Aku terlalu sering mengingatmu, sampai tak punya hal lain untuk dilakukan,”—sedikit membela diri—“Aku berhenti menulis, berhenti menggambar, dan hanya memikirkanmu. Waktuku tersita oleh ingatan tentangmu,”—mulai bernada rayu—“Sedang apa kau di sana, bersama siapa, ingatkah kau padaku, pertanyaan-pertanyaan seperti itu.”

Kau masih diam. Mungkin tak lagi bingung.

“Lalu suatu hari, karena begitu kuatnya ingatanku tentangmu, ia hidup, berdiri, keluar dari ingatanku. Dan menjadi kau yang sama, tapi berada di sini. Jika kuingat lagi sekarang, mulai saat itu semuanya berjalan normal kembali. Aku kembali menulis, aku kembali menggambar, aku kembali bekerja. Bahkan seperti yang kau lihat tadi, ia mulai terbiasa untuk membantuku. Kau mengerti?”

Kukira kau mengerti. Aku mulai membayangkan sebentar lagi kita berpelukan dan kau memberiku ciuman tanda penyesalan … Tapi tidak.

“Oh … jadi maksudmu, ia yang selama ini menahanmu untuk berhenti menemuiku lagi? Kau lebih memilih tinggal berlama-lama dengannya daripada menemuiku?”

Aku yang mulai bingung. Tak seperti ini tanggapan yang kuharapkan. Kau mulai terlihat hendak meninggalkan kamar, matamu mengincar pintu. Lalu secepat itu aku meraih lenganmu.

“Bukan begitu. Coba lihatlah sekali lagi! Dia mewakili kerinduanku padamu. Tidakkah itu membuatmu tenang dan berpikir lebih jernih?”

“Tidak!” katamu cepat.

Saat itu perempuan itu keluar dari lukisan. Dengan sekujur tubuh berkeringat, ia menatap kita berdua dengan tatapan tak mengerti.

“Tinggal saja dengan kerinduanmu itu!” katamu sambil menunjuk perempuan itu. Aku masih mencoba menahanmu, tetapi secepat itu kau berlalu keluar, melewati segala pembatas, tanpa lewat pintu, tanpa membuka pintu, tanpa membanting pintu, menghilang dalam kegelapan hujan di luar, yang turun kembali entah sejak kapan.

Sepotong sore itu telah lenyap, aku kini kembali ke dalam malam. Tadi kau datang sebentar, dan baru saja pergi.

Seakan larut dalam perasaanku, perempuan di belakangku itu diam. Aku berbalik memandang wajahnya.

“Beginikah rindu yang kau ingin aku menuliskannya?”

“Ya, begitulah,” kata perempuan itu.

Malam ini, aku telah meminta padanya sebuah cerita tentang rindumu.

“Aku tak bisa menceritakan rindunya. Aku hanya bisa menceritakan rindumu,” katanya.

Ia pun mulai bercerita, dan aku menuliskannya. Ia memulai ceritanya dengan menggambarkan suasana sore menjelang Maghrib sebelum hujan turun. Sampai tulisan ini kurampungkan, ia belum berhenti bercerita di belakangku. Dan aku terus menulis, terus menulis, terus menuliskan kata-kata yang ia bisikkan.

“Beginikah rindu itu?” tanyaku kemudian, tak percaya.

“Ya, menurut ceritaku rindumu seperti ini,” katanya.

.

Dari tepi Gunung Tolong, 22 Oktober 2011
BY Muliadi Gf

Catatan:

[*] Henri de Toulouse-Lautrec (1864-1901), adalah seorang pelukis Perancis yang terkenal dengan karya-karyanya yang menggambarkan kehidupan malam kota Paris waktu itu.



*cerpen ini pertama dimuat di

Jurnal Nasional, 15 April 2012

Thursday, 1 January 2015

Aku lebih suka menulis pada malam hari. Itu kulakukan karena saat malam, orang-orang tidur; saat mereka tidur, mimpi-mimpi mereka melayang ke udara malam. Melayang-layang di sana. Ada yang menuju kenyataan. Ada pula yang terjatuh di tengah jalan, di kenyataan entah apa. Ada pula yang terus melayang tanpa tahu berakhir di mana. Dengan menutup mata, aku bisa melihat mimpi-mimpi mereka sejelas saat aku membuka mata. Aku tinggal menuliskannya.



Dan orang yang akan kuceritakan berikut ini adalah seorang lelaki yang bermimpi untuk menjadi seorang pengusaha kaya. Jangan ribut, jangan katakan pada siapapun, ia tinggal di kamar sebelah kamarku. Di rumah pondokan ini, kami tinggal berlima. Namun untuk malam ini, aku hanya akan bercerita tentang mimpi temanku itu, tentang mimpinya menjadi seorang pengusaha kaya.



Ia anak kampung, sama sepertiku. Keturunan nelayan, juga sama sepertiku. Dan ia merokok, tentu tak sama sepertiku. Pada malam ini, aku melihat mimpinya dipenuhi asap rokok. O, bukan, bukan lagi rokok‘ kali ini ia mengisap cerutu. Cerutu asli Kuba, merk Romeo y Julieta. Sambil mengisap cerutu, ia duduk berselonjor dengan kedua kaki di atas meja. Entah meja kerjanya, atau meja di rumahnya, yang satu itu aku tak melihatnya jelas.



Ia duduk sambil mengisap cerutu, kita mulai dari itu.



“Darto!" teriaknya kemudian.



Seorang lelaki, tua, berjas hitam, bersepatu pantopel mengkilat, datang tergopoh-gopoh. Sedikit menunduk ia berujar,



“Ada apa, Tuan?"



“Bikinkan aku kopi! Kopi Toraja yang kemarin, yang kemarin kubawa dari Sulawesi."



“Baik, Tuan," kata pelayan tua itu, sebelum beranjak keluar pintu meninggalkan tuannya.



“Dasar busuk! Kalau saja tak ada dia, aku sudah menang tender itu,‘ temanku mulai menggumam. “Ya, kalau saja tak ada dia, aku sudah memenangkannya. Berapa miliar melayang dari depan wajahku? Sial! Kalau saja tak ada dia!" ia mulai terlihat seperti hendak menendang asbak berukir di atas meja.



Sang pelayan datang. Di tangannya, secangkir kopi dengan penutup aluminium berkilat-kilat oleh cahaya lampu. Bayangan asap cerutu menari-nari di penutup cangkir itu.



“Kalau saja tak ada dia, Darto, kita sudah bertambah kaya! Kalau saja tak ada dia!"



“Dia siapa, Tuan?" Darto menunduk-nunduk.



“Dia‘ Ah, pokoknya dia! Kau tak perlu tahu!" tangan temanku yang mengempit cerutu setengah menunjuk si Darto.



“Panaskan mesin! Kita segera berangkat," temanku bangkit dari kursinya.



“Tapi, Tuan‘ Kopinya?" tegur Darto dengan halus.



“Ada apa dengan kopinya, hah?! Aku yang membeli kopinya, bukan kau! Pergi sana cepat, nyalakan mesin!" temanku berang, matanya membelalak. Di dinding, seolah menjadi cermin baginya, kepala seekor harimau yang diawetkan juga membelalak padanya.



Darto bergegas keluar, mendahului tuannya. Sebelum mesin mobil panas, temanku naik ke belakang, meminta mobil segera berangkat.



“Tapi, Tuan,‘‘ Darto ingin berkata, "Tapi, Tuan, mesinnya belum panas," tetapi tampaknya ia sudah bisa menebak jawaban apa yang akan keluar dari mulut tuannya. Ia pun segera memasukkan persneling dan menginjak gas. Mobil melaju keluar dari halaman rumah besar itu.



“Ke mana, Tuan?"



“Ke mana saja!"



“Eh‘?"



“Pokoknya jalan saja! Nanti kuberitahu!‘ kata temanku ketus. Asap cerutu masih mengepul-ngepul di depannya, membelai-belai rambut Darto, mengelus-elus tengkuknya, bahkan sesekali menutupi pandangannya. Sementara di kaca spion-dalam, tampak tuannya duduk bersandar di jok kursi belakang dengan santai, menggoyang-goyangkan kedua belah paha mengiringi senandung ringan dari mulutnya.



Mobil melintasi dua blok, berbelok ke kiri, lalu menyeberangi tiga simpang empat.



“Ya, berhenti di situ! Rumah berpagar hijau itu!" tunjuk temanku.



“Rumah siapa itu, Tuan?" tanya Darto.



“Rumah embahmu, gundul! Tak perlu banyak tanya! Diberitahu pun kau belum tentu tahu!" sergah temanku.



Mobil menepi, temanku keluar dari mobil. Ia menuju pagar dan segera memencet bel. Priiiiiiiiinng!!! Terdengar keriut pintu dari dalam. Seorang perempuan muda menghampiri pagar. Pintu terbuka dan senyum perempuan itu ikut terbuka.



“Hai, cantik!" kata temanku.



“Hai, Om. Lama tak jumpa, dari mana saja selama ini?" tanya perempuan itu genit.



“Dari hatimu," jawab temanku dengan suara berlagu. Aaaah.



Perempuan itu meleleh. Bukan kiasan, ia memang tampak meleleh dalam mimpi temanku, tetapi secepat itu kembali ke wujudnya semula. Kemudian ia merangkul erat bahu temanku dan membawanya ke dalam. Darto diam memperhatikan. Ia tak berani menggeleng-geleng meski batinnya sudah sedari tadi menggeleng-geleng.



Sebentar kemudian, temanku muncul lagi di depan pintu, berjalan ke arah mobil dan menunduk ke dalam. “Jangan beritahu Ibu, ya! Awas!" ancamnya kepada Darto. Darto -- apa lagi yang bisa ia lakukan? -- mengangguk.



Tepi jalan itu sepi. Hanya tinggal mobil berisi Darto yang duduk di dalam tanpa tahu mesti melakukan apa. Tape mobil rusak sejak sebulan lalu, sampai sekarang belum diperbaiki, meski ia tahu tuannya bahkan mampu memasang satu orkes Melayu di dalam mobil. Karena tiada tawaran lain dari waktu, Darto mencoba tidur. Ia menurunkan sedikit kursinya ke belakang dan mulai berbaring. Pelan-pelan, kantuk menindih matanya. Darto tidur. Ia bermimpi.



Mimpi Darto berjalan-jalan di udara siang, kelayapan kemana-mana. Dan entah bagaimana prosesnya, mimpinya mundur ke belakang, ke masa sekarang -- tepat di waktu malam -- dan kini tampak jelas di luar sana. Mimpinya secara kebetulan berpapasan dengan mimpi temanku, calon tuannya di suatu masa yang entah apakah jadi datang atau tidak.



Dari mimpinya, baru kutahu ternyata Darto telah lama ingin memiliki sepetak tanah, berisi sebuah bangunan, dan bangunan itu kelak dijadikannya rumah pondokan mahasiswa. Darto ingin menjadi bapak kos. Mimpi yang sederhana saja.



“Setelah terima gaji dari tuan itu‘ aku akan membeli tanah, membangun rumah, dan menyewakannya...," igau Darto dalam tidurnya.



“Aku akan...," igaunya lagi. Dalam mimpi itu, ia sebagai bapak kos tengah berjalan ke satu kamar untuk menagih uang bulanan pada seorang penghuninya. Ia berhenti, lalu dengan wibawa tak langsung dari seorang bapak kos, langsung membuka pintu. Kamar menganga, tampaklah temanku sedang tertidur dengan posisi paha mengangkang. Liur menetes di pipinya. “Oh sayang, sayangku‘,‘ igau temanku dalam tidurnya.



Dengan langkah gontai, Darto masuk dan seketika menepuk keras paha temanku. Temanku bangun gelagapan. “Ada apa? Kenapa berhenti? Mana kau, sayang?" ia masih setengah dalam mimpi. Beberapa saat kemudian, ia mendongak. Dipandangnya lelaki tua yang berdiri di hadapannya.



“Lho, andakan Darto?" tunjuk temanku, teringat seseorang.



“Apa? Darto? Aku bapak kosmu, tahu?! Kau sudah menunggak tiga bulan! Jika tidak bisa kau lunasi sekarang, segera angkat kaki dari kamar ini!" kata Darto yang sekarang menjadi bapak kos dalam mimpinya sendiri.



“Tidak bisa begitu dong, Pak," temanku terlihat kesal. “Anda datang langsung membangunkan saya dengan kasar. Ini tidak berperikemanusiaan! Menagih seseorang juga bisa dengan bahasa yang santun. Anda jangan semena-mena seperti itu, dong! Masuk kamar orang dengan paksa, membangunkannya dengan paksa pula." Temanku mulai berdiri, sebentar lagi kukira mereka akan berkelahi.



“Jadi kau mau apa, hah?! Kau mau apa?!" Darto sebagai bapak kos mulai maju, mendorong-dorong temanku mundur hingga ke dinding.



Temanku menciut. Ia menunduk sambil menggoyang-goyangkan kepalanya tak jelas seperti babi. “Yaaa...," keluar dari mulutnya. “Bukan apa-apa, sih," suaranya mulai pelan. “Tapi...," suaranya menggantung.



“Tapi apa, hah?! Tapi apa? Sudah menunggak tiga bulan masih saja mau mengelak, malah mau melawan. Mau melawan, kau, hah?!" Darto sebagai bapak kos mulai menarik leher temanku dan mengangkatnya ke atas, semakin rapat dengan dinding.



Temanku tercekat. “Tidak, Pak, tidak," ia berusaha menahan lengan Darto yang kokoh itu. “Tapi maksud saya, kita masih bisa membicarakannya baik-baik, bukan?"



Darto menurunkan temanku. Ia sedia berbaik-baik pada temanku. Secepat kakinya kembali menginjak lantai, secepat itu pula temanku melecut ke lemari, membukanya, dan mengeluarkan amplop kiriman ibunya dua hari yang lalu. Isinya sudah habis setengah, untuk rokok dan mentraktir si Lela‘‘pacarnya.



“Cuma segini, Pak,‘ ia menyodorkannya pada Darto. “Mudah-mudahan pertengahan bulan kiriman ibu datang lagi, saya akan bayar penuh saat itu juga."



Darto mengambil paksa amplop dari tangan temanku. Ia mulai pasrah. Mau apa lagi, cuma segini yang bisa kudapatkan dari mahasiswa korengan ini, mungkin itu pikirnya.



“Awas kalau bohong!" mata Darto mendelik, kemudian ia berbalik, hendak meninggalkan kamar.



“Terima kasih, Pak," kata temanku. “Saya akan selalu mengingat kebaikan hati Bapak. Kelak saya kaya, saya tak akan pernah melupakannya." Temanku tersenyum manis‘‘sangat manis malah.



Darto pun keluar. Temanku menepuk dada -- selamat, selamat, lirihnya.



“Woi! Bangun! Tidur saja kerjanya!"



Darto megap-megap sejenak seperti ikan. Pelan-pelan ia mulai mengenali tuannya. Namun belum sepenuhnya keluar dari mimpinya tadi. “Lho, apa lagi? Bukankah kau sudah bayar setengah tadi?‘ ia mengigau dengan suara tak jelas, namun tuannya mendengarnya.



“Apanya yang setengah? Tadi aku sudah bayar perempuan itu satu bulan penuh! Ayo, bangun! Kita pulang," kata tuannya, yang tak lain temanku dalam mimpinya.



“Langsung pulang, Tuan? Tidak ke kantor dulu? Masih pagi," kata Darto berbasa-basi sebelum menyalakan mesin. Kali ini ia sudah sepenuhnya sadar, namun tak akan pernah sadar sedang berada di dalam mimpi temanku.



“Untuk apa kau mengatur-aturku, hah?!" temanku mendorong kepala Darto dari belakang. “Banyak tanya kau ini. Bila masih seperti itu, bulan depan kau kuganti!"



“Wah, jangan, Tuan, jangan," kata Darto memelas di depan kaca spion-dalam yang memantulkan bayangan tuannya.



Aku terkekeh melihat mimpi temanku. Sampai pagi menjelang, aku masih asyik menikmati kejadian-kejadian konyol dalam mimpi itu‘‘kehidupan Darto di bawah kata-kata kasar tuannya. Selama malam itu, untuk pertama kalinya aku tidak menuliskannya. Betul-betul hanya menikmati sajian mimpi itu hingga aku tertidur.



Pagi hari, aku bangun seperti biasa, bersiap untuk berangkat kuliah. Baru saja membuka pintu, kulihat di depan pintu kamar temanku sudah berdiri bapak kos kami yang tua, galak, dan suka berlaku kasar. Namanya Pak Darto. Sedari tadi aku tak mendengar sedikit pun suara dari kamar sebelah. Mungkin temanku masih tidur, mungkin ia masih bermimpi.

.

Bojo, Oktober 2011

by: Muliadi Gf, lahir dan tinggal di Barru, Sulawesi Selatan

catatan : Cerpen ini pertama dimuat di Jurnal Nasional, 15 April 2012.

suatu hari seorang kakek ingin buang air kecil, lalu ia pergi menuju sebuah WC. ketika ia keluar setelah selesai berhajat, ia ditegur oleh seorang pemuda yang menjaga WC tersebut "wahai orang tua, anda harus membayar ongkos masuk ke WC tadi".

mendengar perkataan itu, air mata bercucuran keluar dari mata si kakek, ia menagis tersedu-sedu. pemuda itu terkejut dan berkata "wahai kakek, jika engkau tidak memiliki uang maka tidak usah bayar, untukmu gratis kali ini dan berhentilah menangis karena ini"

kakek itu menjawab, "wahai pemuda, aku menagis bukan karena aku tidak punya uang, tetapi aku berfikir untuk masuk ketempat kotor seperti ini harus bayar, bagaimana dengan surga Allah ?

berapakah bayaran yang harus aku sediakan untuk masuk kedalamnya ?


sahabat,,mohon di maafkan atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan,,,
semoga buku amal kita tahun ini penuh dengan catatan amal ibadah dan kebaikan kita,,,amin,,,!!

Selepas shalat magrib aku keluar asrama hendak mencari makanan untuk sahur nanti,,
 Aku berjalan di atas trotoar jalan sambil melihat lihat warung nasi di seberang jalan,,

Tiba-tiba seorang bapak yg umurnya sekitar 60-an lewat di sampingku, ia menarik sebuah gerobak yg ukuranya kira2 sebesar pintu rumah biasa,,

Pakaiannya sangat lusuh, ia hanya menatap lurus kedepan, tiba2 dari dalam gerobak yg tertutup setengah itu muncul satu orang anak kecil, kemudian muncul satu lagi dan yg terakhir muncul yg ukuran badanya paling kecil di antara mereka bertika, mereka berbincang2 lalu tertawa dan berbincang2 lagi, sepertinya mereka senang sekali,,

Bapak tua itu terus menarik gerobaknya kearah simpang 4 di depan,,
Aku tidak tau dan tidak mau menebak dimana bapak itu akan berhenti menarik gerobaknya dan mengistirahatkan anak2 kecil tadi dan dirinya sendiri, mungkin di emperan toko atau mungkin dibawah jembatan,,
Tapi aku harap mereka berhenti di sebuah tempat yg nyaman, hangat dan terang yg kami sebut sebagai "rumah",,

Lihatlah kebawah maka kamu akan bersyukur dgn keaadan sekarang, lihatlah ke atas maka kamu tidak akan merasa ria dan sombong,,