Kurasakan detik demi detik waktu bersenang-senang kian menipis. Sebulan yang lalu aku diyudisium dan sejak saat itu resmilah aku bukan mahasiswa lagi. Aku pulang ke kampung membawa gelar sarjanaku dan setelah memperlihatkannya pada kedua orangtuaku, yang Alhamdulillah masih hidup ketika aku berhasil menjadi sarjana, aku mulai menghabiskan waktu dengan makan, tidur, makan, tidur, dan merokok.
Tapi beberapa hari ini aku merasa waktu untuk itu akan segera habis. Api dari rokok yang kuhisap akan segera mencapai filternya. Dan pelan-pelan dalam hatiku tumbuh semacam rencana yang tak dapat kuungkapkan dengan jelas dalam bentuk kata-kata. Mengapa? Aku tak tahu. Yang kutahu, meski dengan samar, waktuku bersenang-senang akan segera berakhir.
Lalu tiga hari kemudian, api rokok itu betul-betul mencapai filternya. Aku bangun di pagi hari dan heran pada diri sendiri karena bisa bangun sepagi itu. Pukul 6 tepat. Untuk menyegarkan diri, aku duduk di tangga rumah. Langit di atas sana tampak begitu bening. Daun-daun mangga depan rumah terlihat sangat hijau seolah baru tumbuh kemarin. Aku mendapat perasaan bahwa duniaku baru akan dimulai saat itu. Aku tak lagi memikirkan apa yang telah terjadi kemarin dan di masa-masa sebelum itu. Tepatnya, aku betul-betul-sangat-tidak-tertarik memikirkannya. Di kepalaku, seolah-olah ada sebuah godam yang memukul terus-menerus, dan gemanya berulang-ulang seperti ini.
Apa selanjutnya? Apa selanjutnya?
“Nak,” ibu memukul lembut pundakku. Aku terkejut dan menoleh ke belakang.
Mulutku membuka seolah berkata ‘ada apa’.
“Nak,” kata ibu, “daripada berdiam diri seperti itu, apalagi masih pagi, mungkin ada baiknya kalau kau mengelap tangga.”
Oooo, batinku. Aku mengangguk. Setelah itu ibu menuruni tangga dan aku memperhatikan punggungnya. Ia mengenakan sarung sampai di bagian dada. Terlihat tali kutangnya yang putih simetris di bagian punggungnya, seperti tali ayunan.
Baik, kita mulai dengan mengelap tangga, cetusku dalam hati. Aku bangkit, menuruni tangga, lalu mengambil kain lap yang tersampir di bunga-bunga. Agak lembab. Aku menyiramnya di dekat sumur, memerasnya, lalu kembali ke arah tangga dan mulai menggosok-gosokkan kain itu mulai dari anak tangga paling atas. Setelah semuanya selesai, termasuk mengeringkan kembali kain itu di taman kecil dekat tangga, aku berjalan-jalan ke samping rumah.
Di sana-sini terdapat genangan sisa hujan deras malam tadi. Rumput-rumput bercuatan seperti model rambut baru. Agak jauh di sudut pagar, melintang kesana-kemari ranting-ranting kayu, teronggok tak karuan, seperti belalang-belalang besar sedang bergelut. Comberan tempat limbahan air dari dapur di atas rumah, meluap hingga sulit dibedakan dengan genangan hujan biasa andaikata larutan hitamnya tidak kentara. Mengambang bau busuk dari sekitar tempat itu. Aku baru sadar betapa kotornya rumahku. Di kolong rumah, berjuntaian jaring laba-laba seperti kelambu rusak.
“Ya, mungkin bagus kalau kau cabut rumput-rumput itu, Nak. Lihat, kotor sekali!” ibu sekali lagi mengagetkanku. Badannya masih basah. Ia baru saja mandi.
Hmm, sebenarnya beberapa detik yang lalu juga timbul dalam hatiku untuk mencabuti rumput-rumput itu. Tapi setelah mendengar ibu, hatiku seperti merah padam lalu redup. Dari dulu aku tak suka ditunjuk-tunjuk, diatur-atur, dipaksa-paksa, dan aku tak akan melakukan apapun itu jika demikian caranya. Akan kulakukan jika memang itu mauku, prinsipku. Amatlah sulit bagiku membayangkan diri menjadi perpanjangan tangan dari keinginan orang lain. Bahkan itu termasuk orangtuaku? Ya, kukira begitu.
Tapi, waktu seakan mengambang perlahan.
Ada sedikit jeda bagiku untuk memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi.
Begini. Usiaku sudah 24 tahun. Aku telah memegang prinsip itu bertahun-tahun lamanya hingga sekarang. Tidakkah aku bosan? Tentu saja. Aku bosan. Namun, hidup dengan memegang teguh pendirian adalah sesuatu yang menantang dalam hidup seorang anak muda. Ada heroisme di sana. Setidaknya bagi diriku pribadi.
Tapi, lihatlah sekelilingmu. Rumput-rumput tinggi, kesemrawutan dari onggokan ranting-ranting kayu, dan bau makhluk-makhluk tak terlihat dari comberan, dan seterusnya, dan seterusnya. Tidakkah kau juga bosan dengan ini?
Tentu saja, kataku lagi dalam hati. Sekarang, mungkin ini yang lebih penting.
Bagaimana dengan perjuangan untuk lepas dari kungkungan orangtua? Pemberontakan terhadap telunjuk orangtua yang penuh tuntutan? Hmm, seiring waktu tema itu menjadi tidak menarik lagi. Kurasa demikian. Apalagi, tadi, tanpa kusadari, aku telah melakukan apa yang dikatakan ibu. Sebuah pekerjaan sederhana bernama ‘mengelap tangga’. Yah, mungkin ini juga adalah sebuah tanda.
Aku tersenyum. Senyum yang sangat manis jika ditempatkan di tengah kesemrawutan halaman samping rumahku. Senyum yang penuh vitalitas. Senyum yang kubawa-bawa hingga aku mulai mencabuti rumput-rumput itu.
Begitulah.
Setelah berlangsung setengah jalan, aku kelelahan. Sudahlah, tidak perlu memaksakan diri, kata batinku. Memaksakan diri adalah pekerjaan orang tua. Aku masih muda. Aku setuju. Setelah berjongkok beberapa lama dengan tangan menggantung di atas lutut, aku bangkit. Aku bermaksud untuk mencukupkan pekerjaan hari itu dan naik ke atas rumah untuk beristirahat.
Sekonyong-konyong pandanganku teralihkan ke arah comberan di bawah dapur. Air hitam itu meluap. Lalat-lalat bergentayangan di atasnya. Batu-batu yang ditumpuk di situ kini tidak tampak. Tenggelam oleh tanah berlumpur. Hatiku trenyuh. Mungkin ini bisa kukerjakan esok hari. Tapi sungguh, semakin lama melihatnya, semakin aku tidak tahan dibuatnya.
Semangat baru seperti jika menjajal sebuah hal baru, muncul menggantikan kepenatanku. Aku menggeledah kandang ayam mencari cangkul. Beberapa lama kemudian, karena kelelahan pikiranku mulai melayap kemana-mana lalu bertengger di atas pohon mangga. Dari atas sana, aku melihat diriku sendiri sedang mencangkul di bawah. Saluran air yang dulu, yang menghubungkan comberan dengan tempat pembuangan terakhir, kini tertutup timbunan tanah, akibatnya comberan mampet, dan airnya meluap. Pekerjaanku sederhana saja, menggali kembali saluran air itu hingga air comberan dapat mengalir dengan leluasa ke arah tempat pembuangan terakhir. Namun, untuk orang yang selama enam tahun lamanya hanya bergelut dengan buku saja, pekerjaan itu sungguh sangat melelahkan.
Setelah selesai, kurasakan pikiranku kembali menyatu dengan tubuhku. Keringat mengucur deras seirama aliran air dari arah comberan. Meski kelelahan, aku sangat puas. Yap, aku puas. Dan sangat lega. Seolah-olah dua batang pohon telah tumbuh di bahuku dan kini tercabut dengan akar-akarnya. Berikut tumbang pula semua pertanyaan tentang apa yang akan kulakukan setelah tinggal kembali di kampung.
Lihat! Di anak tangga terbawah aku duduk sembari mengedarkan pandang ke sekeliling rumah. Tanah ini cukup luas, tapi sangat kotor. Aku lahir di sini, tapi semua tampak asing bagiku. Setelah itu timbul pikiranku, buat apa jauh-jauh mendaki gunung, kalau lingkungan sendiri tidak diakrabi.
Aku tersenyum.
Begitulah, begitulah. Begitulah semuanya bermula.
Jika kau menganggap ini hanya bualan saja. Kukatakan dengan tegas, ya, ini betul-betul terjadi padaku di hari itu.
.
Bojo, September 2010
by : Muliadi Gf
22:44
Unknown
.jpg)


