Sekarang sore hari, menjelang magrib. Sedikit demi sedikit, gelap merambat masuk lewat jendela, memenuhi kamar. Kegelapan yang lebih pekat di belakang pintu seakan datang lebih dulu mewakili malam yang juga sebentar lagi sampai.
Apa yang ada di hadapanku sekarang adalah meja, yang diduduki asbak bumbung puntung rokok, sebentuk korek gas warna kuning, penggaris 30 sentimeter, bungkus rokok yang terbuka, dua buah pulpen, empat buah buku fiksi murahan, kamus tebal, pensil grafit, buku lukisan Toulouse-Lautrec*, dan, selembar baju. Dan di depan semua itu, seolah perwakilan dunia luar atas diriku, sebuah buku tulis yang terbuka dan sebentuk pulpen yang kupegang dengan tangan kanan.
Iring-iringan malam sebagian sudah sampai. Iring-iringan yang sunyi. Sebagian lagi masih di luar. Sebagian yang di dalam mulai duduk di atas buku tulisku. Kata-kata yang telah kutuliskan diam saja diserbu seperti itu. Mulai gelap. Aku menyalakan lampu. Seketika gelap menghambur, dan kembali kata-kataku terlihat jelas di atas kertas.
Aku membuka buku lukisan Toulouse-Lautrec. Garis-garis magis pelukis itu menyala disorot cahaya lampu. Di halaman 4, lukisan In the Belle Epoque. Kutinggalkan. Aku kembali ke rokokku.
Suara tapak-tapak kaki keponakanku berlari-lari di atas lantai kayu, seakan tak peduli azan Maghrib sedang berkumandang. Sebelum rokok di tanganku habis, aku belum akan bangkit dari depan meja. Namun ibu datang, membuka pintu kamar, sedetik kemudian menguar suara kandang ayam dari mulutnya.
“Maghrib, bangkitlah!”—intinya.
Kutatap lekat-lekat bara rokokku seakan berat berpisah. Kuhisap sekali lagi—ini yang terakhir—sebelum kutenggelamkan nyalanya di genangan abu rokok lautku, asbakku.
Sore berakhir. Maghrib berkuasa.
Selepas makan malam, aku kembali ke meja.
Tanpa kutahu, menit-menit jeda sebelum itu telah memberimu kesempatan untuk datang, tanpa mengetuk pintu, tanpa membuka pintu, tanpa lewat pintu, menembus segala pembatas, langsung menuju kamar. Sehembus hawa hangat yang akrab terasa di tengkukku saat terdengar suaramu, “Apa yang sedang kau tulis?” Aku berbalik. Kau telah ada di belakangku.
Kau maju ke muka. Kita sejajar di depan meja.
“Suasana. Aku menulis suasana,” jawabku kemudian.
“Mengapa tidak kau gambar?—seperti biasa?” tanyamu.
“Terlalu luas. Aku belum mampu memampatkannya hanya dalam selembar kertas. Seperti Toulouse-Lautrec,” daguku menunjuk buku itu.
Saat kau ada di sini, entah kenapa aku jadi semakin lambat menulis. Waktu seakan membelah diri menjadi waktu-waktu yang lebih kecil kemudian membelah lagi menjadi waktu-waktu yang jauh lebih kecil lagi, begitu seterusnya. Dan saat waktu itu membagi, kau selalu ada di sana. Kau menjadi kau yang lebih kecil sebelum membelah lagi menjadi kau yang jauh lebih kecil lagi, dan begitu seterusnya. Mungkin hanya dagumu, bibirmu, lancip hidungmu, matamu, telingamu, yang terlihat di dalamnya. Tapi bahkan dagumu, bibirmu, hidungmu, matamu, telingamu itu, sudah cukup mampu menahan pulpenku mengambang di atas meja tanpa menulis satu pun kata.
Ah! Aku mendesah.
Lalu kita berdua diam. Diam yang sangat lama. Diam yang menyadarkanku pada hujan yang telah reda sedari tadi. Entah kapan.
Kau tak tahu harus bicara apa. Kau lalu meraih buku tulisku dan membacanya dari awal. Membacanya dengan suara keras, terdengarlah derum mesin dalam kecepatan tinggi.
“Hei!” tegurku. “Bacalah lebih lambat. Kau hanya akan menemukan kata-kata bila seperti itu. Ini suasana, aku sedang menggambarkan suasana. Biarkan suasana itu membentuk ulang dirinya saat kau membaca.”
Kau berhenti mendengarku dan mulai membaca lagi. Kali ini lebih lambat. Nada suaramu juga lebih pelan. Seperti berbisik di ruangan gelap.
Lalu pelan-pelan malam beranjak pulang, bukan menuju pagi, tetapi menuju sore tadi.
Kau melompat dan mendarat lembut di atas buku. Masih dengan serius memperhatikan aku menulis, saat kaki-kaki kecil hujan mulai melompat-lompat di atap rumah. Hawa dingin masuk. Aku melihat kau bergerak meraih jaket di gantungan baju, menutup tubuhku.
Saat itulah, saat kau memakaikan jaketku, kau baru menyadari kehadiran seorang perempuan di belakangku. Kau tak mengenalinya.
“Siapa dia?”
“Itu kau,” kataku.
Kau memutariku, mendekati perempuan itu. Mengamatinya lekat-lekat, menyentuhnya sesekali dengan ujung jari, mengatakan kata-kata tanpa suara yang tak terdengar oleh siapapun. Kau berpikir. Bingung.
“Sejak kapan ia, atau itu aku, ada di sini?”
“Ia memang selalu ada di sana. Sudah sejak lama,” kataku lalu kembali ke buku tulisku, meneruskan catatanku.
“Apa yang dilakukannya?” tanyamu lagi.
“Lihat saja,” kataku, masih terus menulis.
Lalu perempuan itu maju dan mulai menunjuk benda satu-satu. Kau terus memperhatikannya, silih berganti antara benda yang ditunjuknya dan wajahnya, yang tak lain wajahmu sendiri. Lalu perempuan itu berdiri ragu. Di belakangku, jemarinya bergerak naik ke kepalaku. Kau masih diam memperhatikan saat perempuan itu membuka kepalaku seolah sedang membuka buku yang sangat besar. Ia lalu mengeluarkan pantai dan kulit kerang. Aku menggeleng melihat pantai itu, dan ia mengembalikannya. Kini di tangannya hanya kulit kerang. Ia meletakkannya di atas meja, menyatu dengan asbakku.
Lalu ia menyalakan lampu. Dan menyulutkan rokokku. Kau mulai membayangkan beberapa jam kemudian kau akan melakukan hal yang sama, dengan gerakan yang sama sekali sama, dengan kelembutan yang sama.
Tak peduli pada keherananmu, perempuan itu menunjuk buku Toulouse-Lautrec. Halaman 4, In The Belle Epoque. Perempuan itu membuka sebuah lukisan Toulouse-Lautrec, yang tengah menggambarkan suasana dansa-dansi di Moulin Rouge. Perempuan itu melompat masuk, kau mengikutinya. Saat perempuan itu menari, kau memandangnya sekali lalu bergerak lebih bebas, lebih liar, lebih panas, darinya. Perempuan itu menambah cepat gerakannya, kau berusaha melewatinya dengan gerakan yang cepat pula. Gerakan kakimu menghentak-hentak lantai dansa, di mataku tak seperti kegembiraan, tetapi lebih mirip kemarahan. Saat itulah aku mulai merasa ada yang salah.
Kau keluar dari lukisan, meninggalkan perempuan itu, dengan terengah-engah. Sekujur tubuhmu penuh keringat. Bulir-bulir keringat menciprat ke wajahku saat kau berkata dengan keras.
“Katakan sejujurnya, siapa dia?!”
“Bukan siapa-siapa, dia itu kau,” jawabku tetap tenang.
“Bohong! Katakan saja!”
“Coba lihatlah dia!” aku menunjuk. Wajahnya, matanya, tangan dan kakinya, semua milikmu. Menyerupaimu.
“Lalu mengapa ia bisa ada di sini?” katamu sedikit lebih tenang, meski dengan mata yang mengancam. “Mengapa ia bisa ada di belakangmu, terus-menerus di sana, dan berlaku seolah kalian telah bersama sekian lama?!”
Aku tak mampu menjawabnya.
Aku tak tahu, benakku. Aku mulai mengingat tanggal-tanggal, sekian pertemuan, dan tempat-tempat. Sebelum aku merumuskannya dalam ingatan yang lebih padat, kau mengajukan pertanyaan baru.
“Sejak kapan ia ada di sana?”
“Mungkin… Sejak kita terakhir kali bertemu.”
“Maksudmu?”
Aku mulai merasa semuanya sedikit lebih jelas kini, maka kataku, “Mungkin ia semacam perlambang saja, bahwa aku selalu mengingatmu, aku selalu merindukanmu, sejak terakhir kali kita bertemu.”
Kau diam tak mengerti. Bingung.
“Mungkin ia adalah ingatanku sendiri tentangmu,” kataku lagi. “Aku terlalu sering mengingatmu, sampai tak punya hal lain untuk dilakukan,”—sedikit membela diri—“Aku berhenti menulis, berhenti menggambar, dan hanya memikirkanmu. Waktuku tersita oleh ingatan tentangmu,”—mulai bernada rayu—“Sedang apa kau di sana, bersama siapa, ingatkah kau padaku, pertanyaan-pertanyaan seperti itu.”
Kau masih diam. Mungkin tak lagi bingung.
“Lalu suatu hari, karena begitu kuatnya ingatanku tentangmu, ia hidup, berdiri, keluar dari ingatanku. Dan menjadi kau yang sama, tapi berada di sini. Jika kuingat lagi sekarang, mulai saat itu semuanya berjalan normal kembali. Aku kembali menulis, aku kembali menggambar, aku kembali bekerja. Bahkan seperti yang kau lihat tadi, ia mulai terbiasa untuk membantuku. Kau mengerti?”
Kukira kau mengerti. Aku mulai membayangkan sebentar lagi kita berpelukan dan kau memberiku ciuman tanda penyesalan … Tapi tidak.
“Oh … jadi maksudmu, ia yang selama ini menahanmu untuk berhenti menemuiku lagi? Kau lebih memilih tinggal berlama-lama dengannya daripada menemuiku?”
Aku yang mulai bingung. Tak seperti ini tanggapan yang kuharapkan. Kau mulai terlihat hendak meninggalkan kamar, matamu mengincar pintu. Lalu secepat itu aku meraih lenganmu.
“Bukan begitu. Coba lihatlah sekali lagi! Dia mewakili kerinduanku padamu. Tidakkah itu membuatmu tenang dan berpikir lebih jernih?”
“Tidak!” katamu cepat.
Saat itu perempuan itu keluar dari lukisan. Dengan sekujur tubuh berkeringat, ia menatap kita berdua dengan tatapan tak mengerti.
“Tinggal saja dengan kerinduanmu itu!” katamu sambil menunjuk perempuan itu. Aku masih mencoba menahanmu, tetapi secepat itu kau berlalu keluar, melewati segala pembatas, tanpa lewat pintu, tanpa membuka pintu, tanpa membanting pintu, menghilang dalam kegelapan hujan di luar, yang turun kembali entah sejak kapan.
Sepotong sore itu telah lenyap, aku kini kembali ke dalam malam. Tadi kau datang sebentar, dan baru saja pergi.
Seakan larut dalam perasaanku, perempuan di belakangku itu diam. Aku berbalik memandang wajahnya.
“Beginikah rindu yang kau ingin aku menuliskannya?”
“Ya, begitulah,” kata perempuan itu.
Malam ini, aku telah meminta padanya sebuah cerita tentang rindumu.
“Aku tak bisa menceritakan rindunya. Aku hanya bisa menceritakan rindumu,” katanya.
Ia pun mulai bercerita, dan aku menuliskannya. Ia memulai ceritanya dengan menggambarkan suasana sore menjelang Maghrib sebelum hujan turun. Sampai tulisan ini kurampungkan, ia belum berhenti bercerita di belakangku. Dan aku terus menulis, terus menulis, terus menuliskan kata-kata yang ia bisikkan.
“Beginikah rindu itu?” tanyaku kemudian, tak percaya.
“Ya, menurut ceritaku rindumu seperti ini,” katanya.
.
Dari tepi Gunung Tolong, 22 Oktober 2011
BY Muliadi Gf
Catatan:
[*] Henri de Toulouse-Lautrec (1864-1901), adalah seorang pelukis Perancis yang terkenal dengan karya-karyanya yang menggambarkan kehidupan malam kota Paris waktu itu.
*cerpen ini pertama dimuat di
22:37
Unknown

0 comments :
Post a Comment