Aku dipeluk, dan kubalas pelukan dari orang-orang yang baru kukenal. Aku orang asing di sana, tapi mereka mengangkatku sebagai teman, adik laki-laki, kakak, hingga dianggap seorang anak walau mereka tidak pernah melahirkanku. Kulihat banyak teman-temanku menagis tersedu. Yang ku tau mereka memang cengeng. Kain syal yang harusnya jadi hiasan di leher, malah di gunakan untuk menyapu air mata.
Mataku terhenti ketika melihat kearah seorang teman. Ia berdiri mematung di pintu masuk Bandara. Matanya tidak memerah seperti mataku dan teman-teman lain. Ia hanya berdiri kaku, memengang tas jinjing di depan dengan kedua tangannya. Tatapannya kosong dan ia tidak berbicara dengan siapapun. Mirip sekali seperti seorang gadis kecil yang sedang menunggu jemputan bus sekolah. Namun sayangnya bus itu tidak pernah datang, walau hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.
Entah bagaimana perasaannya waktu itu. Tapi aku yakin, kala itu ia sudah melipat rapi perasaannya dalam koper. Mungkin ia tau, jika hari itu ia menggunakan perasaannya maka luasnya bandara tidak akan sanggup menampung apa yang akan keluar dari matanya. Dia gadis yang kuat. Walau yang ia tunggu tidak pernah datang atau mungkin tidak pernah ada, ia tetap tegar hingga kembali ke pangkuan nanggro tercinta.
07:57
Unknown
0 comments :
Post a Comment