Tuhan, malam ini aku kembali menghadapMu. mengadahkan tanganku memohon ampun padaMu. Diatas kain sajadah yang suci nan wangi dan di kamar yang hangat ini aku ingin mencurahkan isi hatiku padaMu.
Wahai Zdat Yang Maha Angung, kulihat Engkau sedang menunjukkan kuasaMu di negeriku yang jauh di sana. Kulihat Engkau sedang menguji ketabahan saudara-saudaraku di kampung sana. kulihat Engkau sedang menghujani tanah serambi tanpa henti.
Sungai meluap. Padi-padi terendam dan mati. Kandang-kandang sapi hanyut dan seorang bocah yang baru pulang mengaji ikut terbawa entah kemana. Itu di tempatku di lahirkan Tuhan. Belum aku ceritakan bagaimana ganasnya air yang Engkau limpahkan di daerah-daerah lain di Serambi Mekah yang airnya tergenang hingga setinggi atap rumah.
Tuhan, apakah ini cobaan atau bala?
Tuhan, belum lekang dalam ingatan kami bagaimana kuasa Engkau memporak-porandakan negeri kami sepuluh tahun silam. Ribuan saudara kami engkau jemput seketika waktu itu. Ratusan sekolah engkau hancurkan dan ribuan rumah Engkau ratakan. Hanya rumahMu yang suci yang engkau sisakan.
Tuhan, tidak ada maksud hamba mengeluh padaMu malam ini. hamba hanya sekedar ingin mengadu padaMu. bahwa hamba begitu lemah dan saudara-saudara hamba juga begitu lemah atas kuasaMu.
Tuhan, mungkin bencana 10 tahun silam belum cukup menyadarkan kami. mungkin kehilangan ribuan saudara juga belum cukup mengingatkan kami. kami masih tetap menjadi manusia yang angkuh, congkak dan serakah.
Tuhan, itulah kami. hambaMu yang hina yang engkau biarkan hidup ditanah mulia. ditanah para Aulia dan para syuhada.
Tuhan, mungkin tidak layak aku menyebutkan Engkau kesal dan marah pada kami. tapi itu adalah kenyataan bahwa tingkah kami telah membuat Engkau murka. Kau berikan kami tanah yang subur, namun kami tumpahkan darah saudara kami sendiri di atasnya. Engkau kirimkan pewaris-pewaris nabi namun kami tinggalkan mereka. bahkan kami asingkan.
Tuhan, memang kami hamba yang bejat. hamba yang tidak tau diri.
setiap hari pekerjaan kami hanya duduk membicarakan aib saudara kami sendiri. saling memaki, saling mencaci dan saling berkelahi. Bukan hanya kami. pemimpin negeri kami jauh lebih berani dan lebih brutal lagi.
Tuhan, aku kembali tertunduk malu ketika mengingat semua itu. aku tidak berani memintaMu menghentikan kuasaMu menghakimi negeriku. mungkin memang itu pantas bagi kami.
Tuhan, sebetulnya aku malu memohon padamu. tapi apa yang dapat kami lakukan selain meminta pertolongan padamu. tidak ada.
Tuhan, jika musibah ini dapat mendekatkan diri kami padaMu, maka kami riza. jika musibah ini dapat manghapus dosa-dosa kami, maka kami ihklas.
Jakarta, 24 Desember 2014
09:12
Unknown

0 comments :
Post a Comment