Ya… kalian mungkin tidak akan percaya. Tapi aku betul pernah melihatnya. Ceritaku kali ini mungkin akan membuat kalian tertawa atau akan menganggapku gila. Hemmm…itu tidak akan berarti apa-apa, karena aku lebih percaya pada apa yang aku lihat daripada suara dari mulut orang. Baik, aku anggap saja kalian percaya. Karena mau membuang waktu yang berharga untuk ceritaku yang sulit untuk di cerna.Oke, aku akan mulai bercerita. Tapi ingat, jika kalian ingin melihat apa yang aku lihat dan merasakan apa yang aku rasakan, kalian harus membacanya dengan lambat. Seperti seorang anak kelas 1 Sekolah Dasar yang mulai mengeja buku bahasa setelah di contohkan gurunya. Jangan membacanya jika kamu sedang lapar dan ingin makan atau sedang sangat mengantuk karena kekenyangan. Mulai dari awal maka kamu juga bisa merasakan kehadirannya.
Blok M…
Hari itu, saya dan beberapa teman sedang berada di sebuah mall, pusat perbelanjaan pakaian. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Semua teman sudah mendapatkan apa yang mereka ingin beli. Kecuali aku. Aku belum menemukan apa yang aku ingin beli, padahal aku sudah berkeliling seluruh lantai di mall. Dan teman-teman lain sudah berkumpul rencana mau pulang.
“Pak, perhiasan dengan batu asli seperti itu sepertinya tidak di jual di sini. Saya pernah melihatnya, tapi diluar sana” kata Linda sambil menunjuk kearah lorong barisan toko-toko kecil di luar mall.
“saya tidak pernah masuk ke sana” jawabku sambil menggaruk kepala.
“kalau bapak mau, saya bisa membantu bapak mencarinya disana”.
“oke jika kamu tidak keberatan”
Setelah memberitahukan teman lain untuk menunggu, kami berdua keluar dari mall dan menuju kearah lorong toko-toko kecil di samping mall. Kami mulai berjalan memasuki lorong sempit itu. Disana berjejer toko yang menjual barang-barang belum jadi untuk membuat hiasan, gorden, besi alumunium, kancing-kancing baju dan sebagainya. Lorong itu cukup sempit, ditambah lagi para penjual jajanan instan yang mendirikan lapak sembarangan. Kadang harus minta maaf karena harus melangkahi orang-orang yang sedang duduk makan ala kaki lima.
Aku berjalan dibelakang Linda. Sementara dia berjalan pelan di depan dan terus melihat kiri-kanan mencari toko yang dia maksud. Kami masih menelusuri lorong yang lumayan panjang, tidak ada penjual makanan lagi disana. Kini kami melewati barisan motor yang diparkir rapi di sebelah kanan kami. Sementara sebelah kiri masih barisan toko.
Wajah Linda terus memandang ke sebelah kiri, mencari tokonya dan sesekali memerhatikan jalan yang di lalui. Aku tidak lagi ikut membatu linda dengan melihat kearah toko-toko. Mataku melihat tajam kearah wajah para laki-laki yang kami lewati. Mereka duduk diatas motor-motor mereka, tetapi mereka terus menatap aneh kearah linda. Mereka yang sedang asik menghisap rokoknya berhenti. Mereka yang sedang mengobrol juga terdiam lalu ikut menaruh tatapan aneh pada Linda.
Apasih yang mereka perhatikan dari tadi pada Linda. Pakaiannya biasa saja. Dia memakai jelbab agak lebar. Baju kaos yang keseluruhannya hampir tertutup jelbabnya dan rok lea yang panjang kebawah sejajar dengan tumitnya. Aneh orang-orang itu. Apakah mereka tidak pernah melihat orang seperti linda ya. Padahal ini kota besar
Aku masih masih menatap para laki-laki itu dengan tajam. Sesekali aku menggigit gigiku dan menggumpalkan tangan. Terlintas dikepalaku, jika ada yang berani mengganggu Linda sedikit saja, maka aku tidak segan akan menghajarnya. Aku terus mengikuti Linda. Kutahan nafasku agar dadaku nampak kekar dan kelihatan kuat. kuhilangkan senyuman dan kutunjukkan wajah garang. Aku adalah penjaganya.
Tiba-taba Linda berhenti. Akupun kaget dan ikut berhenti dengan jarak cukup dekat dengannya. Linda berbalik kearahku. jari telunjuk kanannya menyentuh bibir bagian bawah yang merah delima. Wajahnya nampak kebingungan dengan lembut ia berkata “Maaf pak budi, Linda sudah lupa tokonya dimana…”.
Masyaallah… apa yang sedang aku lihat tuhan. Dia manusia atau bidadari. Cantik sekali. Aku seperti baru saja di terpa badai salju yang dingin sekali. Nampak sangat jelas sekali aku melihat hidungnya yang bersih bening bercahaya. Pipinya yang putih merona seolah bayi tanpa dosa. matanya colat. Alisnya tebal dan bulu matanya melentik keatas dengan sempurna. Aku begitu dekat dengan wajahnya. Belum pernah seumur hidupku menatap jelas wajah seorang peremauan sejalas hari itu.
Kepalaku belum bisa mencerana kata-kata Linda. Aku masih berdiri kaku dan lemas dalam waktu bersamaan. Pikiranku masih masih melayang-layang. Aku tidak tau apa yang sedang aku pikirkan karena seluruh sarafku sedang merekam sebuah wajah yang sempurna. Dan itu membuat detak jantung berhenti bekerja. Bibirku belum bisa mengeluarkan kata-kata karena dia baru mabuk minum seguci anggur muda.
“hei…” kata linda lantas membuatku sadar. Aku segera membuang padangan. “hemm…ya. Mari kita kembali, teman-teman pasti sudah lama menunggu”. Sepanjang perlanan pulang aku masih belum sadar sepenuhnya. Pikiranku masih dipenuhi wajahnya yang sudah tersimpan sempurna. Masyaalah tuhan, engkau barusaja menampakkan wajah mahlukmu yang begitu sempurna. Aku tidak bisa menebak apakah mahluk-maklukmu disurga nanti akan seindah dirinya atau dirinyalah penghuni disurga.
Jakarta 6 November 2014
05:38
Unknown
0 comments :
Post a Comment