Dentuman
meriam begitu menggema di telinga. Ratusan pesawat berwarna gelap dan berasap
berbaris rapi di udara. Langit sedari pagi begitu cerah tiba-tiba berubah gelap
seakan mau hujan. Tiba-tiba ribuan benda putih di lontarkan dari pintu belakang
pesawat. Seperti butiran salju, benda melayang-layang itu semakin dekat dan
beberapa telah mendarat di dalam sawah kami.
Ibuku marah
dan memanggil-manggil diriku karena berhenti menanam padi dan mengerajar-ngejar
burung. Entah kenapa ribuan bangau putih itu bisa terjun dari pesawat pengangkut
tentara. Cuma dua burung yang aku dapat dan sempat mengikatnya di batang pohon
pisang sebelum bunyi alarm si Faisal membangunkanku.
Ah…sudah
jam 4 pagi, rasanya baru lima menit aku tidur. Kuabaikan terikan ibuku dan burung-burung
yang kudapat. Aku harus cepat, murid sudah menaanti kedatanganku. Kan tidak
mungkin aku pergi mendidik anak-anak Jakarta dengan kaki masih berlumuran
lumpur dan bau burung bangau.
23:37
Unknown

0 comments :
Post a Comment