Sunday, 21 December 2014



Dentuman meriam begitu menggema di telinga. Ratusan pesawat berwarna gelap dan berasap berbaris rapi di udara. Langit sedari pagi begitu cerah tiba-tiba berubah gelap seakan mau hujan. Tiba-tiba ribuan benda putih di lontarkan dari pintu belakang pesawat. Seperti butiran salju, benda melayang-layang itu semakin dekat dan beberapa telah mendarat di dalam sawah kami.
Ibuku marah dan memanggil-manggil diriku karena berhenti menanam padi dan mengerajar-ngejar burung. Entah kenapa ribuan bangau putih itu bisa terjun dari pesawat pengangkut tentara. Cuma dua burung yang aku dapat dan sempat mengikatnya di batang pohon pisang sebelum bunyi alarm si Faisal membangunkanku.
Ah…sudah jam 4 pagi, rasanya baru lima menit aku tidur. Kuabaikan terikan ibuku dan burung-burung yang kudapat. Aku harus cepat, murid sudah menaanti kedatanganku. Kan tidak mungkin aku pergi mendidik anak-anak Jakarta dengan kaki masih berlumuran lumpur dan bau burung bangau.

0 comments :

Post a Comment